Interviews

Batik Batak Kreasi Getse Nadeak yang Membawa Batik Batak Dikenal Sampai ke Benua Eropa

 
  • 5
    Shares

   

Bukan menjadi tujuan utama dalam hidup, tapi sekarang dunia wirausaha sudah menjadi teman dan sahabat bagi Bapak Getsemane Nadeak(34). Meskipun jiwa wirausaha sudah ia dapatkan sejak kecil, namun baru ia kembangkan setelah kembali dari luar negeri. Keinginannya untuk berbisnis dan membantu melestarikan warisan budaya Indonesia khususnya suku Batak membawa pria lulusan St. Thomas Medan ini berkreasi dengan batik yang sudah lama dikenal dan menjadi ciri khas Indonesia. Dengan sentuhan yang berbeda ia membawa batik dan Batak menjadi satu kesatuan yang tidak sekedar menghasilkan. Dan berikut ini adalah cuplikan wawancara kami bersama Bapak Getse.

Sebelumnya bisa diceritakan terlebih dahulu bagaimana awal mula Bapak masuk ke dunia enterprenuer ini?

Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya untuk terjun ke dunia wirausaha. Sekarang saat saya melihat kembali kemasa – masa kecil saya, saya teringat semua akan benih – benih wirausaha yang diajarkan oleh ibu saya. Sejak kecil saya sudah terbiasa membawa hasil ladang kami ke pasar, menjual gorengan dan tape ke tempat keramaian, menjalankan kios kecil dirumah kami. Semua ini saya dapat dimasa kanak – kanak saya.

Tahun 2008 sepulang dari Swiss saya datang ke Yogyakarta untuk berkarya sebagai pekerja sosial didaerah kabupaten Bantul yaitu daerah yang paling hancur akibat gempa bumi tahun 2006. Selain karya pembangunan fasilitas umum, saya juga ingin membantu dibidang perekonomian, salah satu desa penghasil batik dari Bantul menjadi tujuan saya karena desa ini juga hancur akibat gempa dan beberapa pengrajin kecil bangkrut.

Bersama – sama dengan teman se-misi, kami menghubungi teman – teman kami di luar Indonesia untuk hasil produksi mereka nantinya. Prouduksipun dimulai lagi dan kami memasarkannya melalui teman – teman kami di Italia dan Singapura dan ternyata berhasil. Kami dapat mengadakan pekerjaan dan sedikit bantuan ekonomi dengan cara mencarikan pasar untuk produk mereka.

Awal 2010 pesanan dari Eropa mulai berkurang dan ahirnya berhenti akibat melesunya perekonomian zona Eropa. Saya sedih karena tidak dapat lagi membantu pengrajin. Ahirnya dengan cara sendiri dengan pertolongan Tuhan saya mencari ide ide “apa yang dapat saya lakukan?” Sayapun mengingat kalau ternyata suku saya (Batak) belum memiliki sesuatu yang khas untuk dikenakan dalam aktivitas sehari hari selain ulos. Batik bernuansa batak adalah ide yg muncul di benak saya. Akan tetapi saya punya keterbatasan dimana pikiran atau imajinasi saya sangat pintar mendesain, namun tidak demikian halnya dengan tangan saya. Saya tidak mempunyai talenta untuk menggambar/mendesain motif, dimana hal ini adalah hal paling fundamental dalam membuat batik tulis. Namun saya tidak pernah berhenti berimajinasi akan suatu produk batik dengan nuansa Batak dimana semua bangsa dapat mengenakannya selayaknya batik – batik yang telah lama ada.

Sekitar tahun 2011 dengan segenap keterbatasan, saya  mulai menggambar motif – motif batik dengan nuansa Batak di lembaran kertas putih dan hasilnya sangat jelas karya tangan saya tidak seindah karya imajinasi saya. Setelah satu motif selesai di kertas putih saya pun membuat masternya dalam kain putih ukuran 215x115cm. Proses batik selesai dan jadi kemeja, saya merasa kurang puas, produk pertama saya hadiahkan kepada bapak saya dan kemudian ada keluarga yang membeli awalnya saya tidak percaya diri untuk menjualnya karena motifnya sangat Batak dan benar – benar kontras dengan batik pada umumnya, saya juga tidak yakin kalau orang akan menyukainya. Tapi saya posting saja di Facebook lalu ada teman yang mesan sarimbit dan tanggapan ini membuat saya lebih percaya diri. Seiring waktu kami lakukan evaluasi dan perbaikan serta ide – ide akan motif baru, Puji Tuhan beberapa motif sudah jadi dan terjual dan beberapa pengrajin bisa mendapatkan sedikit penghasilan/pekerjaan tambahan. Dan kemudian saya tekatkan bahwa saya harus tekuni ini sepanjang hidup saya. Jika suatu hari nanti Tuhan memanggilnya saya, orang – orang cukup mengingat saya sebagai Getse pembatik Batak.

Lalu sejauh ini apa yang dirasa menjadi pengorbanan terbesar selama menjalani bisnis Bapak ini?

Saya merasa hati, pikiran dan waktu adalah yang paling saya korbankan di bisnis ini. Saya juga merasa bahwa keinginan saya melawan rasa malu untuk memulai semua dari 0.

Lalu bisa dijelaskan sedikit tentang bagaimana bisnis Bapak ini?

Usaha saya adalah batik dengan motif – motif Batak yang di ilhami kekayaan budaya dan seni yang ada disekitar Danau Toba dengan kreasi kreatifitas yang belum pernah ada sebelumnya jadi murni original. Lalu saya juga memproduksi kaos bertema serupa. Nama usaha saya adalah Gets batikdanautoba. Gets saya ambil dari nama saya yang berarti temukan atau dapatkan, lalu saya menambahkan danautoba karena saya ingin membantu mempromosikan Danau Toba dan budaya yang ada disekitarnya.

Lalu bagaimana cara Anda memasarkan produk ini?

Produk saya masih saya pasarkan lewat jejaring sosial dan dari teman ke teman. Pelanggan saya ada dari Kalimantan, Bali, Jakarta, Sumatera, Jawa, dan untuk luar negeri ada Brazil, Singapura, Equador.

Wah sudah sampai luar negeri juga ya Pak. Lalu apanih yang membuat bisnis Bapak ini berbeda dengan bisnis lain pada umumnya?

Motif – motif saya original dan setiap motifnya mempunya arti karena saya mendesainnya dari awal dengan tujuan memperkenalkan budaya Batak jadi setiap motif ada cerita dibaliknya. Sentuhan lainnya saya mencari kepuasan pelanggan itu yang utama. Dan bagi saya profit nomor dua.

Lalu bagaimana kiat Bapak dalam mengimbangi antara harga dengan kualitas produk?

Barang yang bagus harus dengan harga yang bagus tentunya. Dan cara yang saya gunakan adalah dengan menghitung semua bianya – biayanya lalu ambil marginnya sekita 20-30%.

Selama menjalani bisnis ini prestasi apa saja yang dirasa sudah Anda capai?

Saya dari tidak paham batik jadi paham batik dan bisa bisa melahirkan batik dengan motif – motif yang belum pernah ada sebelumnya. Bagi saya itu merupakan prestasi dan pencapaian tersendiri bagi saya.

Nah, jika dilihat dari pengalaman apa saja yang paling berkesan bagi Bapak selama menjalani bisnis ini?

Membangun rasa percaya diri atas produk sendiri karena nama usaha saya juga langsung pakai nama saya, jadi benar – benar pertaruhan yang mempertaruhkan masa depan saya. Sebabnya saya sangat teliti dengan produk – produk yang saya hasilkan.

Lalu bagaimana Anda menilai ruang lingkup pasar yang ada saat ini dan bagaimana bisnis Anda mengubahnya?

Pasar selalu bagus bagi produk bagus. Jadi tinggal kreatifitas kita membuat motif – motif baru supaya pelanggan tidak jenuh dengan yang sudah ada.

Tantangan dan kendala apa yang sudah pernah hadapi selama menjalani bisnis ini?

Kurang percara diri, karena memang tidak ada basic seni apalagi batik. Mengatasinya tetap berkreasi dan menemukan orang yang bisa diajak saling membantu dan saling membangun. Jika dari sisi pelanggan saya pernah mendapatkan pelanggan yang membeli tapi sampai sekarang belum membabayar. Tapi bagi saya itu tidak masalah.

Apa rencana Bapak kedepannya untuk mengembangkan bisnis ini?

Jika Tuhan menghendaki, saya ingin membuat produk yang lebih bagus lagi dengan kwantitas produk yang lebih banyak dan beragam.

Nah siapa nih yang paling memotivasi Bapak untuk membangun dan mengembangkan bisnis ini?

Chiara Lubich, dan quote pegangan saya, “Carilah dahulu kerajaan Allah dan KebenaranNYA maka yang lainnya itu akan diberikanNYA kepadamu“.

Adakah saran dan tips yang ingin Anda bagikan kepada para pembaca sekalian?

Saran saya tetap percaya diri, tetap berkreasi dan yang utama andalkan Tuhan Yang Maha Esa. Selalu ada tempat untuk setiap produk yang bagus.

Dan untuk tips saya ingin berbagi sedikit. Selalu menjadi informatif dan jangan hanya berjualan saja dengan calon pembeli tetapi buat pertemanan/persahabatan meskipun calon – calon pembeli sudah menyita waktu kita dan tidak jadi membeli.

Wah terimakasih Bapak Getse untuk waktunya berbagi cerita bersama kami. Semoga Bapak dan bisnis Bapak ini semakin dan selalu sukses :)


  • 5
    Shares

Artikel Terkait

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *