Leadership

Belajar Dari Kegagalan 4 Perusahaan Besar

 
  • 2
    Shares

   

Di dalam sebuah usaha, terutama bisnis, kegagalan merupakan hal yang biasa. Resiko kegagalan pasti ada. Pada perusahaan – perusahaan besar sekalipun, kebangkrutan bahkan muncul sebagai konsekuensi penuh atas tindakan dan keputusan yang diambil. Sebab melalui sekian banyak trial & error, barulah kita dapat menemukan rasio resep yang pas untuk menciptakan kesuksesan. Seperti halnya pada beberapa perusahaan besar yang telah mendunia berikut ini.

Disneyland

Disneyland adalah product ciptaan Walt Disney. Dia tidak diragukan lagi merupakan surganya dunia hiburan dan permainan. Tapi tahukah Anda, bahwa di awal peresmiannya, Disneyland pernah hampir membuat Walt Disney bangkrut? Berawal dari rancangan ambisius direksi yang ingin menggaet pasar Eropa. Mulailah pembangunan Disneyland yang mengenalkan budaya hingga suguhan makanan khas Eropa. Ide ini sebenarnya cukup bagus. Namun sayang waktu eksekusinya saja yang kurang tepat. Kala itu Eropa tengah dilanda resesi yang mengakibatkan devaluasi mata uang Inggris dan Italy. Banyak orang tua yang kemudian mengurangi pengeluaran untuk mengajak anak mereka ke taman bermain. Disneyland pun akhirnya hampir merugi 1M setiap harinya hanya untuk memenuhi biaya operasional. Namun dengan inovasi – inovasi, Disneyland mampu menutupnya dan bangkit menjadi pioner taman bermain dunia.

1-walt-disney-land

Pepsi

Siapa penikmat soda yang tidak kenal Pepsi? Saya rasa tidak ada. Namun siapa sangka bahwa Pepsi juga pernah gagal. Semuanya berawal di tahun 1992 ketika Pepsi tengah bersaing ketat dengan Coca Cola. Kala itu Pepsi berpegang pada prinsip bahwa konsumen menginginkan rasa soda yang jernih. Akhirnya Pepsi mengeluarkan varian baru yang diberi nama “Crystal Pepsi”. Namun sayangnya produk ini tidak laku. Pada tahun 1994, Pepsi kekeuh untuk kembali mengeluarkan produk yang sama, namun dengan sedikit pembenahan di sana sini. Produk baru ini kemudian dihadirkan dengan nama “Crystal”. Sayangnya produk ini kembali gagal di pasaran.

Baru kemudian diketahui bahwa ‘kemasan’ adalah keyfactor yang selama ini hilang dari Pepsi. Apa yang membuat Coca Cola lebih unggul salah satunya adalah dari sisi pemilihan warna. Cola memiliki ciri khas berwarna kecoklatan, yang mana cocok jika dikombinasikan dengan warna merah.

Inilah yang kemudian mendorong Pepsi untuk mengubah warna produknya menjadi merah dan biru seperti yang sering kita jumpai saat ini.

Seandainya Pepsi mau kembali ke akar permasalahan dan mencari tahu apa penyebab kegagalannya, mungkin Pepsi perlu terpuruk berulang kali. Namun siapa tahu?

2-pepsi-co

Levi’s

Levi’s merupakan brand yang karakter klasiknya sudah mendunia. Namun sepertinya, menjadi terkenal membuat Levi’s tidak cukup berhati-hati sehingga kemudian dia mengalami masa-masa sulit. Masa itu dimulai pada tahun 2001 di mana Levi’s mengalami kemerosotan penjualan dari 7,9$ US menjadi 4,3$ US. Sebenarnya kesalahan yang dilakukan cukup klasik yaitu Levi’s terlalu banyak mengeluarkan varian produk baru untuk menjangkau skala pasar yang lebih besar namun dengan nama brand yang sama. Hal ini membuat imej yang telah dibangun jadi rusak. Muncul kecaman di mana-mana. Sedangkan kala itu beberapa merk saingan mampu berkembang sangat pesat. Sebut saja CK, Diesel dan Tommy Hilfiger.

3-levi-strauss

Ovaltine

Ketika Ovaltine merayakan ulang tahunnya yang ke-98 di tahun 2002, Ovaltine resmi mengeluarkan pernyataan bahwa perusahaan akan menutup pabriknya di Inggris. Alasannya, Ovaltine telah kehilangan pasar utamanya. Kekalahan ini bukan berarti tanpa perjuangan. Sebelum itu, Ovaltine sudah berusaha meningkatkan penjualannya melalui diskon besar-besaran. Namun penawaran ini nampaknya kurang menarik bagi konsumen. Padahal dulu, ketika Ovaltine meluncurkan produk pertamanya, dia sampai menjadi produk minuman favorit sebelum tidur di Inggris, menjadi sponsor resmi Olimpiade 1948 yang kemudian merubah identitas Ovaltine menjadi minuman berenergi untuk diminum di pagi hari, hingga menjadi produk yang dibawa Edmund Hillary untuk menaklukkan gunung Everest yang terkenal. Namun pencapaian ini tampaknya jadi sia-sia ketika Ovaltine tidak mencermati kebiasaan konsumen yang mulai berubah. Seperti: pola hidup orang tua dan anak yang sudah berubah, mulai dari jam kerja yang lebih panjang, kegiatan harian yang lebih melelahkan, transportasi yang lebih padat sehingga banyak waktu yang habis di jalan. Begitupun dengan kultur baru kalangan muda Inggris yang lebih memilih wine di banding susu sebelum tidur. Hal yang kurang dicermati seperti inilah yang menyebabkan kemerosotan penjualan dan pemasukan perusahaan.

4-ovaltine

Tulisan ini dibuat bukan untuk mengagungkan kegagalan, ataupun mendoakan. Namun sebagai gambaran saja bahwa kita tidak boleh putus asa ketika sedikit kegagalan menimpa. Sebab resiko kegagalan selalu ada. Kita harus menanamkan mindset bahwa kegagalan adalah awal dari kesuksesan – kesuksesan yang mengharukan. Mari bangkit menjadi petarung yang lebih tangguh lagi. Salam sukses ;-)

Siapa bilang saya 1000x gagal menciptakan lampu pijar? Saya berhasil menemukan 1000 cara untuk tidak menciptakan lampu pijar – Thomas Alfa Edison

Dapatkan Segera! Video Marketplace Domination: Cara Sukses Jualan di Tokopedia dan Bukalapak. Download Now!


  • 2
    Shares

Artikel Terkait

4 komentar

  • 11 March 2013 - pukul 23:40

    Postingan yang sangat bagus, saya sangat terharu dan termotifasi

    • Lastriani
      13 March 2013 - pukul 9:10

      Terimakasih pak Zulham. :) Semoga kita dapat mengambil hikmah dan pelajarannya ya pak. :)

  • 1 November 2013 - pukul 10:55

    Mantap dan memotivasi, salam

    • Administrator
      1 November 2013 - pukul 16:56

      Terimakasih apresiasinya, Salam :-)

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *