Interviews

Kisah Tunjung Utomo Membangun Trafizap sebagai Aplikasi Solusi Kemacetan Lalu Lintas

 

   

Tunjung Utomo adalah founder dari Trafizap. Trafizap adalah layanan pemantauan lalu lintas jalan secara online yang dapat diakses baik melalui aplikasi mobile dan website. Aplikasi ini menciptakan peta lalu lintas secara real-time dari media sosial online seperti Facebook, Twitter, BBM, dan masukan langsung. Trafizap sering tampil dalam berbagai ajang awarding seperti IBM dan Get in The Ring. Maka suatu hari, saya ngobrol-ngobrol dengan Tunjung mengenai Trafizap.

Kesan pertama saya terhadap Tunjung adalah orang yang sangat mencintai pekerjaan. Beliau membawa cetak biru sistem proyek yang dikerjakannya ketika kami bertemu. Ketika berbagi pengalaman, beliau menceritakan kecintaannya yang mendalam terhadap dunia IT.

Halo Pak Tunjung bisa diceritakan latar belakang Anda?

Justru bisa dibilang saya bukan dari IT. Saya adalah lulusan dari jurusan teknik lingkungan ITS. Sebelum masuk dunia digital Startup pun usaha saya ada di bidang lain-lain. Saya pernah punya trading khusus untuk produk-produk kelapa.

Saya tertarik dengan peralihan profesi Anda. Bisa diceritakan mengenai bagaimana Anda mulai menjajaki dunia IT?

Sejak SMA, saya adalah peminat dunia IT. Namun saya sebelumnya masih ragu-ragu apakah saya bisa hidup dari kecintaan saja. Setelah sekian lama menekuni dunia kerja, kemudian saya mengambil kesimpulan bahwa saya harus bisa. Maka sekitar tahun 2008, saya membuka warnet sekaligus IT System Provider. 2 tahun berjalan, sambil belajar, saya melihat beberapa kebutuhan yang perlu dihandle oleh aplikasi web. Kemudian tahun 2010, barulah saya masuk ke dunia Startup dengan mengembangkan online bulletin board dengan nama AgendaKota. Waktu itu sempat beberapa kali diupayakan funding, tapi ternyata tidak dapat sehingga kita jalankan sendiri saja. Dan baru-baru ini kami, saya dan seorang teman saya, Zaenal Arifin, mengembangkan Trafizap.

Dari segi penghasilan, bagaimana jika dibanding sebelumnya?

Penghasilan sekarang  secara proporsi sama. Sebelumnya kan saya single, sedangkan sekarang sudah berkeluarga. Jadi meski angkanya lebih besar, namun secara kebutuhan lebih banyak.

Kapan Anda pindah haluan?

Turning point saya adalah saat berkeluarga. Tepatnya setahun setelah menikah. Muncul pertanyaan di diri saya tentang apa yang benar-benar ingin saya lakukan dan saya maunya kemana. Apakah saya harus menjalani pekerjaan yang tidak saya senangi sehingga terbawa ke kehidupan saya yang lain.

Kenapa pindah haluan?

Ketika kita bergairah menjalani sesuatu, misalnya profesi, pasti akan terbawa ke kehidupan kita yang lain. Ketika profesi itu tidak menyenangkan, bisa pula terbawa ke yang lain. Kalau masih lajang saya rasa belum dapat dilihat akibatnya, karena hanya kita yang rasakan sendiri. Namun ketika sudah berkeluarga, maka keluarga kitalah yang pertama akan merasakan. Misalnya ketika susah di kantor, maka ketika pulang hanya tinggal sisa ampasnya saja.

Siapa yang paling mendukung terhadap perpindahan anda?

Kehidupan saya yang sekarang adalah andil dari istri saya yang sangat mendukung. Beliau melihat saya sebagai orang yang idealis. Jadi, dia tidak setuju kalau saya harus mengorbankan bidang yang benar-benar saya minati demi kehidupan yang stabil. Menurutnya, kalau saya bergerak di dunia yang saya minati, pasti saya bisa lebih bahagia. Begitulah istri saya mendorong saya. Saya mendapat kekuatan dari beliau hingga saya berani menjajaki dunia IT.

Bisa diceritakan kehidupan sehari-hari Anda sekarang ini?

Bisa dibilang saya punya 2 profesi, yaitu day job dan night job. Untuk hidup, kita pilih mana yang paling menghasilkan secara lebih steady. Maka day job saya adalah ERP (Enterprise Resource Planning) System. Sedangkan night job saya adalah Trafizap..

Kalau Trafizap orientasinya adalah ke end user. Sedangkan ERP lebih ke perusahaan. Istilahnya kita bisa melayani 2 segmen sekaligus. Keduanya bisa saling menunjang. Karena salah satu model Trafizap nantinya adalah kemitraan dengan korporat. Jadi rasanya dengan berakrab diri pada dunia korporat melalui ERP, kita membangun koneksi. Dengan terbiasa melayani solusi bisnis, kita akan terbiasa ketika melayani korporat. Kita tidak akan kesulitan untuk merumuskan solusi bisnisnya.

Ide Apps Trafizap munculnya dari mana?

Idenya muncul ketika saya masih Pulang Pergi Malang – Surabaya. Saya sering terjebak kemacetan di Porong. Begitu masuk ke Surabaya pun di Ahmad Yani sudah macet lagi karena ketika pulang kantor, semua orang juga pulang kantor. Saya kemudian berpikir bahwa setiap orang pasti ingin mencari jalan alternatif. Selama ini kita sudah punya radio. Tetapi cukup dengan mendengarkan radio rasanya kurang komplit, karena kita harus memvisualisasikannya sendiri berdasarkan keterangan-keterangan yang kita dengar. Kemudian muncul ide sederhana. Kenapa keterangan-keterangan ini tidak kita bantu terjemahkan melalui jalan IT yang kemudian kita strukturkan dan kita convert menjadi peta kemacetan.

Sudah sejauh mana perkembangan Trafizap sekarang?

Trafizap adalah proyek yang kami kembangkan sejak Agustus tahun lalu. Awalnya saya kembangkan idenya dengan input manual. Tetapi ternyata tidak efektif karena kecepatan tangan operator tidak seberapa. Kemudian saya coba cari cara lain. Ketika sedang baca-baca, saya temukan teknologi Natural Language Processing. Yaitu kata-kata manusia yang bisa distrukturkan dan diterjemahkan sedemikian rupa, salah satunya menjadi peta kemacetan. Kata-kata manusia bisa berbasis teks dan voice. Di awal, kita kembangkan yang berbasis teks dulu. Mulai dari SMS, BBM, Facebook, dan direct input dari dalam Apps kita.

Tantangan yang selama ini dihadapi dan bagaimana solusinya?

Trafizap termasuk apps jenis User Generated Content. Padahal kita membutuhkan konten yang cukup supaya bisa akurat. Sedangkan kalau hanya satu dua user saja yang input, kita tidak bisa membuat peta kemacetannya. Maka solusinya adalah kita bekerjasama dengan beberapa radio di Surabaya.

Bisa disebutkan prestasi yang pernah dicapai bersama Trafizap?

Awarding paling besar ada satu. Ketika masih berbentuk konsep, kita ajukan ke acara IBM Smart Camp. Ternyata lolos ke final untuk regional Asia Tenggara. Kita diundang untuk presentasi ke Singapore. Berdasarkan pengalaman pertama saya mengembangkan AgendaKota, kita tidak perlu terlalu selalu sering awarding. Yang terpenting adalah progressnya.

Jadi, sesuai progress Trafizap. Apa target yang ingin Anda raih?

Semoga setidaknya sampai Desember, kita bisa soft launching. Kemudian selama 6 bulan, kita bangun jumlah user hingga masa mudik di lebaran tahun depan, kita bisa breaktrough. Breaktrough dari segi jumlah kenaikan pengguna dalam sebulan mengalami peningkatan drastis.

Boleh dong Pak, berbagi tips yang sesuai dengan pengalaman Anda?

Tips saya adalah just do it. Lakukan saja. Pelajaran terbanyak adalah ketika kita sudah terjun langsung dan merasakannya sendiri. Jika kita merasa belum siap, maka kita tidak akan pernah siap. Karena kita tidak akan pernah bisa merasa siap terhadap semua hal. Maka just do it. Nyemplung langsung.

3 poin utama dalam kehidupan menurut saya adalah: 1. Lakukan, 2. Belajar, 3. Kembali ke nomor satu. Tentu saja di antaranya, kita tidak boleh lupa untuk berdoa.

Setelah terjun langsung di Dunia IT. Bagaimana Pak Tunjung menilai lingkungan programmer yang sekarang?

Saya ingin nyuwun sewu dulu pada para programmer. Saya bukan orang yang pakar di bidang programming. Sekolah juga bukan, terjun pun bisa dibilang masih baru-baru ini. Dibandingkan teman-teman yang sudah lama di sini, saya lebih memposisikan diri sebagai enterpreneur yang paham dengan teknologi ini.

“Selama ini yang saya lihat adalah skill dari para programmer di Surabaya kurang spesifik. Banyak programmer yang kurang mendalami skill-skill tertentu.”

Saran saya adalah lebih baik pilih satu atau dua bahasa pemrograman yang diminati dan hajar di situ. Fokus. Dengan begini kita bisa jauh lebih gampang untuk marketing. Misalnya ketika mengembangkan sebuah produk, kita tidak bisa sendiri. Kita pasti harus kerjasama dengan spesialis Java, spesialis database, atau apa. Makanya kita nggak usah mikir kalau kita harus bisa semua. Justru jadi tidak optimal.

Tetapi teknologi kan selalu berubah-ubah. Kalau kita spesialisasi, Apakah bisa sustain sampai 5 tahun kedepan?

Kita kembali lagi di prinsip lakukan—belajar—lakukan. Ambil contoh di Microsoft. Selama ini yang diceritakan di media adalah mereka yang masih muda dan segar. Padahal ada juga programmer yang sudah senior. Misalnya Stephen Elop, kandidat kuat CEO Microsoft. Itu umurnya sudah berapa. Atau di Apple ada Jony Ive atau pernah ada Scott Forstall. Mereka usianya sudah di akhir 30-an. Jadi selama kita bisa berkembang, kita bisa membuka diri, Kita nggak usah paranoid terhadap 5 tahun ke depan kita mau kemana.

Ada orang yang bilang kalau jadi programmer itu bodoh. Tetapi menurut saya kalau memang minatnya di situ ya nggak masalah. Misalnya dia suka dengan hal yang berbau logic, logikanya kuat, ya monggo-monggo saja jadi programmer. Toh nyatanya banyak orang yang bisa hidup dari sana.

Boleh dong pak, berbagi pesan kepada pembaca Mebiso yang saat ini tengah menggeluti dunia pemrograman?

Saya ingin menyoroti arek-arek Suroboyo yang dalam hal IT merasa tidak percaya diri jadi arek Suroboyo. Terus terang saya sempat kesulitan mencari anggota tim. Padahal saya lihat banyak teman-teman yang skill pemrogramannya hebat. Fakultas tekniknya juga banyak sekali yang unggul. Nggak beda jauh dengan Jakarta, Bandung, dan Jogja. Masalahnya ada 2. pertama kurang fokus, kedua nggak percaya diri di Surabaya sehingga mereka hengkang ke Jakarta ke Dubai. Padahal di Surabaya bisa. Kita harus percaya diri untuk tampil.

Kalau anda sendiri, bagaimana Anda menilai diri anda?

Ada orang yang spesialis, ada orang yang generalis. Ada orang yang idealis, dan pragmatis. Saya kategori 2, generalis dan pragmatis. Kalau sudah ada kebutuhannya, saya baru minat belajar. Dulu ketika saya pertama kali memutuskan untuk pivot, orang-orang di sekitar saya menanyakan siapa saya. Apalagi terus terang saya sama sekali tidak punya skill pemrograman. Tapi saya tahu tujuan saya baik. Apa yang saya tuju itu baik, apa yang saya tuju itu benar, dan apa yang saya tuju itu berpotensi untuk menguntungkan secara bisnis. Saya tahu kalau tujuan saya itu secara teknis feasible atau mungkin dicapai. Hal ini sudah cukup memacu diri saya untuk belajar. Ketika saya tidak bisa SQL, maka saya harus belajar SQL. Saya tidak bisa Java, maka saya paling tidak harus mengerti.

Super sekali. Terimakasih Pak Tunjung telah bersedia berbagi kisah dengan Mebiso. Semoga Trafizap berhasil memenuhi target yang telah ditentukan. :-)


Artikel Terkait

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *