Community

Menemukan Cinta di Pondok Sosial Anak Penyandang Cacat Kalijudan

 
  • 10
    Shares

   

“Surip siapa yang jemput?”

Sore itu, para pengasuh Pondok Sosial Kalijudan sedang riuh membicarakan hal ini. Karena sekitar seminggu lagi sudah waktunya Idul Fitri. Anak-anak penyandang cacat yang dinaungi dinas sosial sudah waktunya dijemput untuk menghabiskan masa liburan bersama keluarga asli mereka.

“Gak tahu Bu. Orang tuanya susah dihubungi. Sering banget gonta-ganti nomer.”

Latar belakang mereka memang berbeda-beda. Ada yang sengaja dititipkan karena kondisi ekonomi keluarga, ada yang ditemukan di jalanan, ada pula yang dititipkan oleh sang tetangga karena si anak sudah tidak punya siapa-siapa. Ada yang sudah ada di sana sejak kecil, ada yang baru ditemukan. Meskipun beberapa sudah bertumbuh kumis di wajahnya, namun mereka masih seperti anak kecil di dalam. Mereka masih suka berlarian kesana-kemari. Surip, yang saat itu tengah dibicarakan justru saat itu sedang melingkar di kaki saya. Sambil menyanyikan sebuah lagu yang tidak saya mengerti.

Spontan saya pun tanya, “Kalau tidak ada yang jemput bagaimana Bu?”

“Ya sudah Mas. Berarti mereka menghabiskan waktu lebaran di sini. Tapi kadang meskipun ada orang tuanya pun, mereka tidak dijemput. ” Jawab sang pengasuh. Namanya Susna. Saya tidak tahu nama lengkapnya.

Maka kemudian Bu Susna merayu agar beberapa anak tidak usah pulang, dengan iming-iming hadiah es krim bagi mereka yang tidak mau pulang. Beliau tampak tegas dan mengerti dengan apa yang dilakukannya. Pun begitu dengan pengasuh-pengasuh lainnya. Mereka seolah sudah terbiasa dengan kelakuan anak-anak asuhnya.

“Di sini lebaran pun ada yang jaga?” Saya kaget.

“Lho ya harus Mas. Kalau tidak ada yang jaga, bisa sampai copot kuping anak asuh kita. Wong ditinggal sebentar saja sudah berantem.” Jawab pengasuh lainnya, mungkin setengah bercanda, mungkin juga serius.

“Kita di sini, pengasuh ada 6 mas. 4 laki-laki, 2 wanita. Masing-masing kebagian jatah 12 jam sehari secara bergantian / shift.” Jawab Bu Susna menerangkan.

“Anak asuh kita ada sekitar 50-an. Namun tidak semuanya cacat. Ada pula yang normal, namun dititipkan karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak mampu.”

“Ada yang normal?” Seorang kawan saya kaget mendengarnya.

“Ada. Itu mbak, namanya Ika.” Sang pengawas menunjuk.

Kami kembali terkejut. Sang pengasuh menunjuk ke arah seorang gadis kecil yang cantik sekali. Dia tampak anteng karena baru bangun tidur. Kami termenung. Memang tidak semua dilahirkan dalam nasib dan kondisi yang baik.

Seringkali kita mengeluh tentang apa yang tidak kita miliki.

Tentang hidup yang tidak membawa kita kemana yang kita mau. Tentang pendidikan yang tidak selesai-selesai, atau juga tentang pekerjaan yang seolah begitu berat dengan hasil yang kecil sekali.

Padahal saat itu kita mengeluh di tengah-tengah kenyamanan yang berlimpah. Saking berlimpahnya sampai seringkali kita tidak melihatnya. Kita sibuk untuk tenggelam di dalamnya. Kita justru jadi lebih lumpuh dan malas bergerak kemana-mana. Inisiatif kita jadi jongkok.

Semoga semangat Bu Susna, pengasuh lain, dan semangat seluruh adik-adik penyandang cacat yang bernaung di bawah Pondok Sosial Kalijudan Surabaya bisa memantik kembali semangat dan inisiatif teman-teman yang mungkin saat ini sedang padam. Ayo jadi lebih produktif.

Ini sekedar oleh-oleh berupa gambar yang menjelaskan betapa luar biasanya sambutan mereka karena bisa akrab dengan mudah kepada orang luar seperti kami.

pondok-sosial-kalijudan

Lucunya, ketika pertama kali datang dan menginjak pelataran yayasan, salah satu kawan saya bilang, “Saya tidak tahu harus bersikap seperti apa”. Kawan saya mengutarakan kekhawatiran yang sejujurnya sempat pula membayang-bayangi benak saya dan mungkin rekan-rekan lain yang saat itu perasaannya tengah campur aduk. Namun jika pun ada sedikitpun keraguan, ketakutan, atau rasa sungkan, maka mereka semua benar-benar lenyap begitu bertemu dengan adik-adik. Sambutan mereka begitu luar biasa. Mereka mengajak bersalaman, tos, berpelukan hingga ngobrol dengan bahasa mereka sendiri. Ah, biarlah jadi kenangan saya.

pondok-sosial-kalijudan-2

Namun anda juga bisa memiliki pengalaman yang luar biasa seperti ini, salah satunya dengan mengunjungi Pondok Sosial Kalijudan, di alamat: Villa Kalijudan indah B1 U/2-4, Surabaya, atau Yayasan Anak Penyandang Cacat terdekat lainnya di kota Anda.

Oh iya, tidak lupa kami sampaikan pula selamat Idul Fitri bagi seluruh pembaca Mebiso. Minal Aidzin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin. Saya tidak dapat menunjukkan betapa besarnya penghargaan saya bagi anda sekalian selain rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya. Semoga ilmu yang telah dibagikan oleh rekan-rekan kontributor kami bisa bermanfaat bagi pengembangan bisnis anda sehingga anda dapat mulai berbagi pula dengan orang-orang di sekitar anda. Amin.


  • 10
    Shares

Artikel Terkait

1 komentar

  • HAEDHIR
    4 October 2013 - pukul 19:48

    hebat! patut di contoh

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *