Leadership

Menentukan Tipe Kepribadian Lawan Bicara Anda dengan Metode DISC

 
  • 9
    Shares

   

Nah enterpreneur, kemarin kita telah membahas tentang tipe kepribadian seseorang dilihat dengan metode KSPM (Koleris-Sanguin-Plegmatis-Melankolis). Rupanya, Edysen Shin dalam bukunya, The DISC Codes, membedah metode tersebut secara berbeda dan lebih mudah dimengerti. Yaitu dengan metode DISC (Dominan-Intim-Stabil-Cermat). Nah, di bawah adalah beberapa ciri-ciri tipe peribadi berdasarkan metode DISC :

Dominan:

Mereka yang mendapat skor tinggi dalam intensitas “D” memiliki pribadi yang sangat aktif dalam menghadapi masalah dan tantangan, sementara skor “D” yang rendah adalah mereka yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut sebelum melakukan keputusan. Orang yang memiliki “D” yang tinggi digambarkan sebagai orang yang menuntut, kuat, egosentris, berkemauan keras,, ambisius, agresif, dan perintis. Sedangkan skor D rendah menggambarkan orang-orang yang konservatif, kooperatif, perhitungan, ringan, hati-hati, menyenangkan, sederhana dan damai.

Intim

Mereka dengan skor tinggi untuk “I” akan mempengaruhi orang lain melalui pembicaraan dan aktivitas lain yang cenderung emosional. Mereka digambarkan sebagai orang yang  meyakinkan, magnet, politik, antusias, persuasif, hangat, demonstratif, percaya, dan optimis. Mereka dengan skor “I” rendah mempengaruhi lebih banyak data dan fakta, bukan dengan perasaan. Mereka digambarkan sebagai reflektif, faktual, menghitung, skeptis, logis, curiga, pesimis, dan kritis.

Stabil

Mereka dengan skor  tinggi untuk “S” ingin kecepatan tetap, keamanan, dan tidak suka perubahan mendadak. Mereka adalah individu yang tenang, santai, sabar, posesif, gampang diprediksi, stabil, konsisten. Sedangkan mereka dengan intensitas skor “S” rendah adalah mereka yang menyukai perubahan dan variasi, gampang gelisah, demonstratif, tidak sabar, bersemangat, atau bahkan impulsif.

Cermat

Orang dengan skor  tinggi “C” mematuhi aturan, peraturan, dan struktur. Mereka suka melakukan pekerjaan yang berkualitas dan melakukannya dengan benar. Mereka berhati-hati, menuntut, rapi, sistematis, diplomatis, akurat, dan bijaksana. Sedangkan mereka dengan skor “C” rendah digambarkan sebagai orang yang menantang aturan dan menginginkan kemerdekaan, digambarkan sebagai orang yang degil, keras kepala, dogmatis, sistematis, sewenang-wenang, dan tidak peduli dengan detail.

Kesimpulannya

Jika kita summary dari definisi masing-masing sifat, maka kesimpulannya, mereka yang memegang salah satu skor D/I/S/C yang tinggi itu:

  • Dominan: Berhubungan dengan  controling, memiliki kekuatan dan motivasi besar.
  • Intim: Berhubungan situasi social dan komunikasi.
  • Stabil: Terkait dengan kesabaran, ketekunan, dan berperasaan.
  • Cermat: Terkait dengan struktur dan terorganisir.

Nah, keempat dimensi ini dapat dikelompokkan dalam kotak. “D” dan “I” berbagi baris atas dan mewakili aspek kepribadian ekstrovert, sedangkan “C” dan “S” di bawahnya mewakili aspek introvert. “D” dan “C” kemudian berbagi kolom kiri dan mewakili aspek tugas-terfokus, dan “I” dan “S” berbagi kolom kanan dan mewakili aspek sosial.

disc

Dalam matriks ini, dimensi vertikal merupakan faktor “aktif” atau “pasif”, sedangkan dimensi horizontal mewakili “ekstrovert” vs “introvert”.

Kenapa penting sekali mempelajari psikologi orang lain?

Salah satu problematika di dalam lingkungan kita adalah adanya miss komunikasi. Yaitu ketika kedua person saling tidak memahami apa yang dimaksudkan oleh lawan bicara dan tidak memahami kepribadian lawan bicara yang sering kali berujung pada percekcokan atau konflik.

Misalnya seorang penjaga stand buku didatangi oleh si A sebagai pembeli. Si A bertanya dengan gayanya yang sengak. “Mbak, jadi penjaga buku dibayar berapa?” Kemudian dia lanjut bertanya, ”buku ini berapaan?” Respon yang akan diberikan si penjaga stand tentu saja bisa ditebak. Yaitu menjawab “Rp 45.000” dengan tidak kalah ketus. Merasa tidak dihargai namun butuh, si A pun membeli dan langsung pergi.

Kemudian datang si B untuk membeli. Namun bedanya, dia mengajak penjaga stand tersebut berbincang-bincang dulu. Dia menanyakan kabar si penjaga sebelum bertanya harga buku yang dimaunya. Penjual dengan mood yang lebih baik pasti menjawab “Harga bukunya Rp 40.000 jika beli 2 diskon jadi Rp 35.000.”

Nah, Dari gambaran kasus sederhana yang mungkin seringkali kita jumpai ini, kita dapat melihat:

Bagaimana cara Anda memperlakukan seseorang akan mempengaruhi cara orang lain memperlakukan Anda.

Si A begitu datang sudah mematikan semangat penjual. Sedangkan si B mampu menghidupkan semangat penjual dan menikmati diskon yang diberikan penjual.

Setiap orang memiliki cara berfikir dan gaya mendengar yang berbeda.

Misalnya nanti ada perkataan yang menurut si E bisa menyemangati, bagi si F biasa saja. Oleh karena itu, kita perlu mempelajari karakteristik pribadi masing-masing individu terlebih lagi individu yang sering kita jumpai.

Jika kita bisa membaca psikologi seseorang, maka mudah sekali untuk menggiring mereka mengikuti persepsi anda. Apalagi di marketing.

Sedangkan apabila tes psikologi berkaitan dengan karyawan anda, Saya menganjurkan apabila Anda tidak memiliki background psikologi atau tidak terbiasa melakukan observasi personal, untuk mengukur pribadi seseorang lebih baik gunakan tools dari psikolog. Atau jika Anda ingin belajar untuk melakukan observasi, anda bisa belajar dari buku rekomendasi dan memiliki mentor yang tepat.

Membangun hubungan dengan orang lain sama seperti membangun sebuah usaha. Pasti ada yang namanya jatuh dan bangun. Semua ini bisa dipelajari. Cobalah untuk berinteraksi dengan kata yang sama di tipe-tipe orang yang berbeda, Anda akan mendapatkan respond yang berbeda.

Bagaimana menurut anda?


  • 9
    Shares

Artikel Terkait

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *