Leadership

Seperti Apakah Tolak Ukur Sebuah Kegagalan dalam Bisnis?

 
  • 34
    Shares

   

Ketika sedang mengisi sebuah acara sharing tentang bisnis, ada pertanyaan dari salah seorang peserta yang membuat saya berpikir cukup lama. Pertanyaannya sederhana, yakni: Kegagalan apa yang pernah saya alami ketika menjalankan Rira-clothing.com? Bahkan pada saat itu saya belum mendapatkan jawabannya dan baru beberapa hari kemudian saya temukan jawabnya.

 Apa iya saya tidak pernah gagal?

Sekedar flashback sebentar, diawal menjalani bisnis baju muslim, saya tidak pernah menggunakan ilmu-ilmu bisnis yang sekarang sudah banyak dipelajari. Jalan saja. Dan hasilnya waktu itu memang cukup lumayan bagi pemula seperti saya. Omzet besar sudah akrab bagi saya. Jumlah pegawai pun meningkat. Saya justru baru menyadari saat membagi THR. Ternyata amplop yang saya bagikan jumlahnya sampai lebih dari 100.

Maka menginjak tahun ke-5, mulailah muncul masalah. Meningkatnya jumlah order tanpa ditunjang kapasitas produksi dan sebaliknya, membuat saya kewalahan dengan sistem yang saya jalankan. Imbasnya menyebar ke semua lini. Mulai omzet yang menurun drastis hingga berkurangnya jumlah karyawan. Bahkan tidak berkurang, melainkan habis. Tinggal 1 orang yang masih bertahan, yaitu saya.

Apakah ini kegagalan? Bisa jadi iya, inilah kegagalan, tapi kalau prosesnya berhenti sampai disini saja. :-)

Maka sewaktu karyawan saya tinggal 7 orang, saya dapat peluang untuk mengakuisisi unit produksi konveksi milik seorang teman yang sudah bangkrut. Jangan dibayangkan bahwa ini merupakan unit produksi yang sudah tertata dengan rapi. Karena kondisinya justru sudah bangkrut dan lumayan acak adul. Yang saya yakini adalah saya punya team dan mesin produksi yang berpotensi untuk dikembangkan lebih baik lagi. Proses nya juga berjalan cukup lama. Sampai sekarang pun saya bersama team terus semangat untuk selalu mengembangkan potensi yang kami miliki.

Nah, jika kita kembalikan ke jumlah karyawan, saat saya sudah mengakuisisi unit produksi baru, saya mulai belajar membuat sistem. Dan pelan-pelan, satu demi satu, 7 orang karyawan lama saya resign semua. Cukup berat waktu itu. Saya kehilangan orang-orang yang saya anggap sebagai kepercayaan. Namun perjuangan harus lanjut. Saya terus berproses, terus membangun sistem, dan terus belajar. Hingga sekarang, saya diberkahi dengan 15 karyawan unggul.

Apalah artinya 15 orang jika dibandingkan dengan 100 orang tadi. Apakah artinya hal ini adalah kegagalan? Bisa jadi iya kalau hanya dilihat dari quantity karyawan. Nah, yang jadi turn of event-nya adalah kapasitas produksi kami bisa naik sampai 10 kali lipat dibanding ketika kami masih berjumlah 100 orang. Kalau dari sini, apa iya masih disebut kegagalan?

Dari cerita kita hari ini bisa diambil kesimpulan bahwa kegagalan itu bukanlah peristiwa kejatuhan kita. Tetapi ketika kita menolak untuk bangkit. Mari tetap semangat menjalani bisnis :-)

Dapatkan Segera! Video Marketplace Domination: Cara Sukses Jualan di Tokopedia dan Bukalapak. Download Now!


  • 34
    Shares

Artikel Terkait

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *