Interviews

Simple dan Modis, Konsep yang Diusung oleh Ibu Eneng Sholihah dalam Mengembangkan JilbabGeulis.com

 
  • 5
    Shares

   

Seorang wanita dan Ibu rumah tangga ternyata tidak menyurutkan niat Ibu Eneng Sholihah(33) untuk bisa menjadi sosok yang mandiri dan sukses berbisnis. Ini dibuktikan dari kegigihannya menjalankan bisnis berjualan pakaian wanita. Dari yang semula hanya sebagai seorang reseller, kini Ibu Eneng sukses menjadi owner dari Jilbab Geulis yang banyak dicari oleh masyarakat. Banyak cerita menarik dan inspiratif yang Ibu Eneng bagikan kepada kita. Penasaran bagaimana ceritanya? Ini dia :)

Halo Ibu Eneng, untuk awal bisa diperkenalkan dulu siapa Ibu Eneng?

Nama saya Eneng Sholihah, usia 33 Tahun. Pendidikan terakhir saya adalah lulusan S1 Teknik Informatika.

Pertama kali terjun ke dunia enterpreneur pada tahun 2011, produk yang dipasarkan berupa pakaian. Pada waktu itu kebetulan istrinya teman suami aktif berjualan, kemudian saya ditawari produk itu. Dari situ muncul ide untuk ikut berjualan juga, awalnya saya hanya menjadi reseller.

Jadilah saya sebagai reseller yang kemudian semua produknya saya upload ke Facebook yang bernama Hikari House, yang merupakan akun Facebook jualan saya.

Bagaimana awal pertama saat Anda mulai berjualan?

Memang pakaiannya ini diperagakan oleh seorang model, dan ada beberapa produk fashion yang modelnya minim. Lalu saya diingatkan dan diberi masukan oleh seorang teman untuk melihat kembali apa yang saya jual. Jangan sampai menjual produk yang banyak madharatnya.

Dari situ saya mulai mencari produk apa yang kira – kira bisa dijual tanpa menimbulkan madharat untuk konsumen, soalnya secara tidak langsung penjual ikut berkontribusi juga.

Kemudian saya mulai menambahkan produk anak (seperti baju,tas), tas dewasa, baju muslim, kerudung dan organizer (sepatu,tas,kerudung). Saat itu banyak sekali produk yg dipasarkan dan membuat saya tidak fokus. Dan ada beberapa produk yg lama dijual dipasaran. Akhirnya saya mengurangi produk2 yang kurang diminati oleh para konsumen.

Lalu sejak kapan Anda tertarik  berjualan pakaian muslimah ini?

Tahun 2012 saya mulai tertarik untuk berjualan kerudung instant. Padahal saat itu sedang marak – maraknya kerudung pashmina. Tapi rezeki kan Allah S.W.T yang mengatur, jadi kita hanya bisa ikhtiar, do’a dan tawakkal. Akhirnya saya tidak takut untuk mencoba. Alhamdulillah ketemu juga kerudung instant dengan harga terjangkau tapi dari sisi kualitas tidak kalah dengan kerudung mahal. Brandnya bernama Nafisa. Waktu itu dengan modal terbatas saya mulai coba tes pasar.

Dimulai dengan reseller 10% (hanya mendapat potongan harga 10%) dan pertama kali order bukan dari distributornya langsung tapi dari reseller lain yang tingkatnya lebih tinggi. Untuk menutupi ongkos kirim akhirnya saya menaikkan harga kerudung sebesar 3000 rupiah per pcs. Kemudian setelah modal cukup memadai saya coba googling untuk mencari distributornya langsung, Alhamdulillah ketemu.

Dari situ saya mulai serius berjualan kerudung instant, dan Alhamdulillah menjadi agen untuk wilayah Jakarta Selatan. Semua itu tidak terlepas dari dukungan suami tercinta yang telah bersusah payah membantu saya, baik secara moril dan materi. Suamilah yang selalu memberikan motivasi dan masukan bila saya menghadapi kendala atau masalah.

Alhamdulillah ternyata ditengah – tengah sedang boomingnya pashmina dengan berbagai motif dan model, kerudung instant masih diminati.

Lalu apalagi yang Anda tawarkan selain kerudung instan ini?

Untuk melengkapi kerudung instant ini saya mencoba menjual gamis lagi, tapi dengan model yang lebih sederhana, jadi bisa dipakai untuk sehari-hari. Tidak lupa dengan harga terjangkau  dan kualitas bagus. Merek gamis yang saya jual yaitu Le Couture dan El Siete.

Darimana ide awal saat Anda ingin menambah varian produk yang Anda jual ke masyarakat?

Saya berpikir mungkin orang – orang saat ini sedang menyukai pashmina dan pakaian ala hijaber, tapi ada kalanya mereka juga ingin tampil simple. Kemudian saya melihat tidak sedikit para ibu yang mempunyai balita ingin tampil simple juga, karena tidak sempat dandan. Segmen pasar itu yang coba saya rangkul sekarang.

Lalu apa saja media promosi dan bisnis Anda saat ini?

Saat ini media pemasaran yang digunakan berupa website dan Facebook, untuk kedepannya saya ingin sekali membuka toko offline. Setelah fokus berjualan jilbab, akhirnya nama Hikari House berubah menjadi Jilbab Geulis, biar yang memakai jilbab dari saya tambah cantik. hehe

Impian apa yang Anda gantungkan untuk bisnis Jilbab Geulis ini?

Sebenarnya dari dulu saya mempunyai impian untuk membuka butik busana muslim tapi dengan harga terjangkau. Mudah – mudahan cita – cita saya bisa terealisasi. InsyaAllah kalau Allah S.W.T mengizinkan.

Selama menjadi seorang enterpreneur, siapa yang paling memotivasi Anda?

Tokoh yang paling saya kagumi dan menjadi inspirasi dalam dunia entrepreneur adalah Siti Khadijah. Beliau adalah seorang yg mandiri dan sukses dibidang perniagaan tanpa meninggalkan kodratnya sebagai wanita.

Nah, untuk yang terakhir nih Bu. Pesan apa yang dapat Anda sampaikan kepada pembaca Mebiso?

Menjadi seorang entrepreneur itu harus tahan banting, tidak boleh cepat menyerah. Kalau sudah tidur atau tersungkur harus cepat bangkit lagi, karena kitalah penentu arah dan tujuan usaha kita. Sebenarnya saran ini bukan untuk orang lain tapi untuk diri sendiri juga.

Wah, terimakasih Bu sudah mau berbagi cerita dan pengalaman berbisnis bersama kami. Semoga Jilbab Geulis semakin dan akan selalu sukses. :)


  • 5
    Shares

Artikel Terkait

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *