Interviews

Wangsajelita.com, Toko Online Produk Kecantikan Khas Kota Kembang Bandung

 

Warning: array_keys() expects parameter 1 to be array, null given in /home/mebisoaja/public_html/mebiso.com/wp-content/plugins/mebiso-download-attachments/mebiso-download-attachments.php on line 263

Warning: in_array() expects parameter 2 to be array, null given in /home/mebisoaja/public_html/mebiso.com/wp-content/plugins/mebiso-download-attachments/mebiso-download-attachments.php on line 263

   

Wangsa Jelita merupakan salah satu toko online yang berada di Kota Kembang Bandung. Menyediakan berbagai produk perawatan tubuh yang diciptakan sendiri, Wangsa Jelita hadir dengan membawa konsep “Natural” yang sesungguhnya. Ibu Nadya Fadila Saib(26) bersama kedua rekannya memang tidak membangun bisnis ini dengan mudah. Ada banyak riset atau penelitian yang dilakukan sebelum akhirnya mampu menciptakan produk yang berkualitas ini. Beberapa hari yang lalu, tim Mebiso berkesempatan untuk mewawancarai salah satu ownernya, yaitu Ibu Nadya. Dan berikut ini ulasan wawancara kami:

Halo Ibu Nadya, sebelum bercerita tentang bisnis, apa latar belakang pendidikan Anda?

Saya adalah lulusan S1 Farmasi Institut Teknologi Bandung Tahun 2008, dan Apoteker Farmasi Institut Teknologi Bandung Tahun 2009.

Dari seorang sarjana Farmasi,  bagaimana cerita awal ketika Anda mulai masuk ke dunia enterpreneur?

Saya memang mempunyai impian untuk bergerak (berkarir/memiliki usaha) di bidang kecantikan dari SMA. Itu juga yang menjadi alasan kenapa waktu kuliah memilih jurusan Farmasi. Di tahun terakhir kuliah, setiap mahasiswa Farmasi diwajibkan membuat penelitian sebagai syarat kelulusan. Waktu itu penelitian saya tentang ekstrak air teh hijau sebagai anti-acne. Dari situ impian untuk mempunyai usaha di bidang kecantikan tumbuh lagi, karena menurut saya, sayang sekali kalau hasil penelitian berhenti hanya sampai di situ. Begitu lulus S1 pada bulan Oktober Tahun 2008, saya coba menghubungi 2 orang teman untuk menjadi partner, yaitu Amirah Alkaff dan Fitria Muftizal. Saya sampaikan ke mereka kalau saya mempunyai rencana untuk memulai usaha, dan mereka setuju untuk bergabung. Sejak itu lah Wangsa Jelita dimulai.

Selama menjalani kegiatan sebagai enterpreneur, pengorbanan terbesar apa yang sudah pernah Anda lakukan?

Salah satu hal yang cukup sulit ketika memutuskan untuk menjadi entrepreneur adalah mengubah “life style” yang sebelumnya boleh dibilang agak boros, menjadi super hemat. Ketika kuliah, saya masih mendapatkan uang saku dari orang tua setiap bulan, dan sempat juga part time mengajar. Jadi, uang bulanan buat saya ketika itu selalu jauh lebih dari cukup. Setelah lulus, saya berkomitmen untuk hidup dari uang kerja sendiri. Jadi, sejak itu saya tidak lagi menerima uang bulanan dari orang tua. Kalau ketika kuliah bisa selalu makan di luar, belanja ini itu tanpa berfikir panjang, begitu mulai menjalankan usaha, untuk beli air mineral saja harus pilih – pilih brand atau merek, yaitu mana yang lebih murah.

Yang membuat lebih berat adalah saat itu Wangsa Jelita juga belum menghasilkan profit yang bisa menggaji saya dan teman-teman. Sementara kebanyakan teman-teman lain yang bekerja di perusahaan tidak menghadapi masalah yang sama. Belum lagi pandangan orang-orang sekitar yang belum paham kenapa kami mau bootstrapping seperti itu. Ketika itu rasanya berat dan seperti pengorbanan besar. Tapi, kalau diingat-ingat sekarang, ya bisa saja untuk dilewati.

Untuk bisnis yang sekarang Ibu kelola, bisa diceritakan sedikit tentang bisnis Wangsa Jelita dan jenis produk apa saja yang ditawarkan?

Kami di Wangsa Jelita menawarkan produk perawatan tubuh, seperti sabun, losion, scrub, beauty oil. Dengan konsep natural yang sesungguhnya, yaitu The True Natural Indonesian Personal Care Products. Alasan mengapa kami concern untuk menawarkan produk perawatan tubuh NATURAL sebenarnya sederhana. Sampai sekarang tidak ada regulasi yang mengatur penggunaan kata “natural” untuk produk di pasaran. Satu produk bisa saja diberi label “natural” hanya karena mengandung x% ekstrak alam, karena jumlah x juga tidak jelas berapa dan apa manfaatnya, padahal mayoritas kandungan lainnya adalah bahan kimia yang tidak ada manfaatnya untuk tubuh dan bisa jadi berbahaya. Wangsa Jelita hadir untuk mengenalkan konsep natural yang lebih tepat. Kami mengeliminasi bahan-bahan kimia yang memang tidak ada manfaatnya untuk tubuh, seperti pewarna dan pengawet dalam personal care misalnya. Formulasi setiap produk Wangsa Jelita adalah 100% bebas dari bahan kimia berbahaya. We proudly call it “only the good” formulation! :)

Di tahun 2010, Wangsa Jelita merubah inti bisnis yang awalnya tidak berbeda dengan bisnis tradisional pada umumnya, menjadi sebuah bisnis sosial. Ini berawal dari pertemuan kami dengan kelompok petani mawar di Lembang yang tidak disengaja di awal tahun tersebut. Ketika itu, kami punya ide untuk membuat satu formulasi produk baru yaitu sabun, yang harapannya akan menjadi produk khas Bandung yang merupakan tempat kami memulai usaha. Rencana awalnya kami ingin membuat sabun stroberi, karena memang banyak sekali produksi stroberi di area sekitar Bandung. Ketika kami survey ke Lembang untuk belajar tentang pertanian stroberi, kami tidak sengaja bertemu dengan kelompok petani mawar. Dari situ kami paham kesulitan yang mereka hadapi dalam menjual bunga mawar termasuk bagaimana hubungan mereka dengan bandar. Di satu sisi, mereka terbantu dengan adanya bandar yang menghubungkan mereka dengan pasar, di sisi lain bandar sebagai satu-satunya jalur pemasaran untuk petani memiliki kontrol yang sangat besar terhadap penentuan harga, yang lebih sering merugikan petani. Di tambah lagi penjualan bunga mawar yang relatif fluktuatif dibandingkan penjualan stroberi, yaitu mengingat banyak sekali restoran dan kafe di Bandung. Itulah yang menginspirasi Wangsa Jelita untuk menghasilkan produk yang sekaligus bisa membantu komunitas.

Kami mengusung sistem perdagangan adil dengan kelompok petani mawar di Lembang. Selama ini bandar menghargai mawar yang dihasilkan oleh kelompok petani berdasarkan panjang tangkainya; kelompok A, B dan C. Kelompok A (panjang tangkai >60cm) dihargai IDR 40.000/kodi, B (panjang tangkai 40-60cm) dihargai IDR 25.000/kodi, C (panjang tangkai <40cm) dihargai IDR 15.000/kodi. Dari harga yang ditetapkan tersebut, hanya kelompok A dan B yang memberikan keuntungan untuk petani. Di sini, kelompok C merupakan bunga yang sehat sama seperti dua kelompok lainnya, hanya saja panjang tangkainya yang lebih pendek menyebabkannya dihargai lebih murah oleh bandar. Karena Wangsa Jelita hanya memanfaatkan bagian petal dari bunga, panjang tangkai menjadi tidak relevan, sehingga kami membeli kelompok C dengan harga yang sama dengan kelompok A.

Sejak kerjasama itu, kami melihat bisnis dengan cara yang berbeda. Kami melihat bisnis sebagai ‘alat’ yang sangat powerful untuk bisa menyelesaikan masalah di masyarakat, dan kami bertekad untuk bisa bekerja sama dengan lebih banyak komunitas, terutama komunitas lokal.

Wah, hebat sekali Bu bisnis yang bukan hanya menguntungkan pribadi tetapi juga untuk komunitas lokal. Lalu bagaimana Anda memasarkan produk bisnis Anda ini?

Sejauh ini kami menjual produk Wangsa Jelita melalui website www.wangsajelita.com dan sangat bergantung sekali dengan word of mouth. Kami juga sedang mematangkan sistem reseller yang sedikit mengadopsi sistem multi-level marketing, seperti ada teman-teman “agen” yang tidak hanya menggunakan produk kami, tetapi juga menjualnya. Untuk non-online, sejauh ini kami baru bekerja sama dengan sebuah distributor untuk memasarkan produk kami di Bali, tepatnya di Bali Collection, Nusa Dua. Khusus untuk pasar ini, produk-produk Wangsa Jelita dikemas khusus sebagai souvenir.

Lalu sentuhan apa yang membuat Wangsa Jelita berbeda dengan bisnis lain yang memiliki konsep serupa?

Pertama, dari segi formulasi, yang tentunya menentukan kualitas produk. Produk Wangsa Jelita menggunakan sedikit mungkin bahan kimia dan sangat selektif dalam memilih bahan-bahan yang digunakan. Walaupun sama-sama mengklaim “natural”, saya cukup yakin untuk membuktikan bahwa produk Wangsa Jelita diformulasi dengan jauh lebih baik dan lebih berkualitas dari produk dengan label “natural” lainnya.

Yang kedua adalah bagaimana kami menjalankan pemahaman bahwa bisnis merupakan the act of service untuk para stakeholder, bukan sekedar profit generator untuk para shareholder. Ini sangat berpengaruh bagi kami, terutama dalam proses menjalankan bisnis, termasuk keinginan kami untuk memajukan komunitas lokal dalam setiap langkah usaha kami.

Dua hal itu menurut saya yang menjadi DNA utama Wangsa Jelita yang membuatnya berbeda dengan produk pasaran.

Wah hebat sekali Bu, lalu sejauh ini prestasi terbaik apa yang pernah diraih bisnis Anda ini?

Prestasi terbaik Wangsa Jelita menurut saya adalah ketika tim memahami bahwa motivasi bisnis yang utama harus berfokus untuk melayani stakeholder dengan sebaik-baiknya dengan menawarkan pada mereka produk berkualitas yang juga merupakan solusi dari masalah yang mereka hadapi. Walaupun terdengar seperti common sense, tapi menurut pengamatan saya, tidak banyak entrepreneur yang memiliki pemahaman yang sama.

Lalu pengalaman apa yang paling berkesan selama menjalankan bisnis Wangsajelita ini?

Wah, banyak sekali yang berkesan, tapi yang paling membuat saya senang sehari – hari, personally, adalah ketika saya tahu ada orang-orang yang saya tidak kenal, memberikan dukungan yang sangat tulus untuk tim dalam  mengembangkan usaha kami. Ada yang dengan memberikan saran bermanfaat, ada yang menulis product review, ada yang membuat blogposts tentang perjalanan Wangsa Jelita, termasuk teman-teman media yang mengangkat cerita kami. Bagi saya dan tim, semuanya sangat berkesan dan berarti. :)

Bagaimana Anda menilai ruang lingkup market yang sekarang, dan bagaimana bisnis Anda mengubahnya?

Terkait ruang lingkup market dan hubungannya dengan akses, saya pikir dalam kurang lebih 15 tahun terakhir akses akan informasi berkembang sangat pesat. Sekarang kalau mau cari informasi tinggal “tanya” Google, semua serba lebih mudah. Termasuk akses kita untuk mendapatkan produk, yang sebelumnya tidak tersedia di kota/negara kita tinggal, sekarang berjarak few clicks away!. Sebab itu, kompetisi antar brand pun meningkat. Tapi di sisi lain, ini juga merupakan keuntungan besar untuk setiap entrepreneur untuk bisa menjangkau pasar yang lebih luas, tanpa batasan teritori. Itu juga mungkin sebabnya berjamuran saat ini online stores, Wangsa Jelita salah satunya. Dengan mengambil keuntungan itu, saya dan tim ingin sekali menjadi salah satu brand dari Indonesia yang sukses di level internasional.

Saya mempunyai harapan besar untuk Wangsa Jelita mengubah bagaimana industri Fast Moving Consumer Goods dijalankan. Kami di Wangsa Jelita berkomitmen untuk menyediakan produk dengan kualitas terbaik, yang menjawab kebutuhan pasar, dengan harga terjangkau. Selain itu, kami juga berharap Wangsa Jelita akan menjadi salah satu brand yang merubah perspektif orang pada umumnya tentang bagaimana bisnis sebaiknya dijalankan, bahwa bisnis adalah the act of service untuk semua stakeholder. Pada akhirnya, kami berharap, Wangsa Jelita tidak lagi sebagai pembawa perubahan untuk Indonesia, tetapi mewakili Indonesia, yang memiliki jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, membawa perubahan untuk dunia.

Lalu, tantangan dan kendala apa yang pernah Anda hadapi dan bagaimana Anda mengatasinya?

Tantangan pertama untuk Wangsa Jelita menurut saya adalah bagaimana mengubah persepsi masyarakat umum tentang konsep natural yang saya jelaskan sebelumnya. Tantangan kedua adalah bagaimana untuk mengembangkan dan menawarkan produk natural yang juga memenuhi keinginan masyarakat. Untuk yang pertama, saya dan tim masih dalam proses mencari jawabannya. Untuk tantangan yang kedua, kami di Wangsa Jelita berusaha untuk lebih fokus kepada target market yang ingin kami sasar. Kami berusaha untuk lebih dekat dengan mereka dan mendengarkan dengan baik masukan-masukan yang mereka berikan. Sejauh ini, cara ini merupakan cara yang paling efektif, terutama dalam memberikan pertimbangan ketika kami akan membuat keputusan bisnis.

Apa rencana kedepannya untuk mengembangkan Wangsa Jelita?

Rencana saya adalah agar Wangsa Jelita terus menghasilkan produk natural berkualitas yang bisa menjadi solusi untuk masalah yang ada di masyarakat dan dalam proses pelaksanaan bisnisnya terus memajukan komunitas, terutama komunitas lokal.

Menurut Ibu Nadya, siapa tokoh yang menjadi motivasi Anda atau apa Quote yang paling berkesan bagi perjalanan Anda sebagai Enterpreneur?

Kalau tokoh/orang yang jadi sumber motivasi sih banyak sekali. Dari orang terdekat, termasuk keponakan-keponakan saya, sampai orang-orang yang saya tahu ceritanya hanya dari buku. Setiap dari mereka punya peranan penting yang membentuk pemahaman saya sebagai entrepreneur. Kalau quote, saya selalu suka dengan quote dari Paulo Coelho, the Alchemist, “when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it” dan Steve Jobs dari Commencement Speechnya untuk Stanford, “If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?”

Menurut saya dua quotes itu sangat powerful dan memotivasi terutama di awal membangun usaha. Sekarang all time quote buatku adalah dari Kevin Johnson di bukunya The Entrepreneur Mind, “Starting a business to be successful is like getting married to have sex. People too often focus on the benefits of the undertaking rather than the true purpose”. Saya ingin Wangsa Jelita terus terjaga fokusnya untuk selalu menjadi solusi, dan tidak beralih menjadi bisnis yang sekedar mencari profit, dan tidak lebih. Quote dari Kevin Johnson itu merupakan reminder untuk saya.

Untuk yang terakhir nih Bu, saran terbaik yang dapat Anda berikan seputar dunia enterpreneur untuk para pembaca Mebiso?

Kalau saran “terbaik” saya tidak tahu pasti jawabannya, tapi kalau ditanya hal-hal apa yang I wish I had known earlier tentang dunia entrepreneur:

1. This entrepreneurial path is difficult. It is ridiculously difficult. Karena itu, penting untuk selalu punya support system, lingkungan yang isinya sesama entrepreneur, supaya bisa tukar pengalaman dan tidak merasa sendirian ketika berhadapan dengan masalah.

2. Asumsi seorang entrepreneur tentang produk yang baik sebaiknya divalidasi apakah sesuai dengan kebutuhan pasar. Menciptakan dan menjual adalah dua hal yang berbeda. Berhasil di salah satunya belum menjamin keberhasilan seorang entrepreneur. Untuk long term, menurut saya, entrepreneur harus belajar untuk menguasai keduanya.

3. “Your network is your net worth!”

4. Last but never the least, money is nothing but a means and it should never be the goal nor motivation.

Wah, terimakasih banyak Bu, untuk cerita dan pengalaman yang sangat memotivasi ini. Semoga dapat bermanfaat dan semoga Wangsa Jelita semakin dan selalu sukses ;-)

Dan untuk sahabat Mebiso yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai Wangsa Jelita, Anda bisa menghubungi Wangsa Jelita melalui link – link berikut ini :

Website: www.wangsajelita.com

Email: info@wangsajelita.com

Instagram: wangsajelita

Facebook: Wangsa Jelita

Twitter: @wangsajelita

BBM: 32753E34

WhatsApp: 0888 232 7198

Mau bisnis Anda diliput juga oleh mediabisnisonline.com? Silahkan daftarkan bisnis Anda untuk liputan bisnis mediabisnisonline.com. Liputan ini GRATIS tanpa biaya apapun.

Dalam Artikel Ver 2

Ayo daftarkan bisnis Anda sekarang juga, siapa tahu Anda beruntung untuk mendapatkan pelangga baru, reseller, dropship atau bentuk partnership lainnya! Liputan ini terbatas!

Dapatkan Segera! Video Marketplace Domination: Cara Sukses Jualan di Tokopedia dan Bukalapak. Download Now!


Artikel Terkait

1 komentar

  • 22 April 2015 - pukul 18:37

    Whoa! This blog looks exactly like my old one! It’s on a totally different subject but it has pretty much the same layout and design. Outstanding choice of colors!

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *