Leadership

5 Strategi untuk Mengatur Rasa Gugup Ketika Public Speaking

 
  • 2
    Shares

Loading...

Entah ketika berhadapan dengan 2 atau 2000 audiens, rasa gugup bisa menyerang kapan saja. Tetapi show must go on. Anda perlu strategi untuk keluar dari rasa gugup anda dan tampil di podium dengan penuh rasa percaya diri dan profesional.

Mark Twain pernah berkata, “Ada dua jenis pembicara: Yang pertama adalah mereka yang gugup dan yang kedua adalah mereka yang berbohong.” Dengan kata lain, tidak peduli seberapa berpengalaman Anda, ada beberapa faktor seperti audiens, topik, atau waktu tertentu yang membuat malam anda penuh dengan rasa gelisah dan pagi anda dimulai dengan rasa mual. Apa yang harus anda lakukan?

1. Berolahraga di pagi harinya.

Bagi Anda yang menganggap bahwa public speaking adalah aktivitas penyebab stres, maka Anda beruntung. Michael Hopkins dalam disertasinya menyebutkan, “Stres yang diakibatkan dari olahraga akan menyiapkan sel, struktur, dan jalur di dalam otak Anda sehingga mereka lebih siap untuk menangani stres dalam bentuk lain.” Maka daripada menggunakan keesokan paginya dari hari presentasi besar Anda untuk panik, lebih baik gunakan setidaknya setengah jam untuk berolahraga. Entah sekedar jalan cepat, atau kelas balet, pelepasan serotonin (atau “happy hormon”) yang dihasilkan dari olahraga akan membanjiri Anda dengan perasaan positif yang akan menyiapkan anda menghadapi waktu presentasi.

2. Hafalkan tiga baris pertama.

Bagian tersulit bagi public speaker sebenarnya adalah ketika memulai. Pada fase ini, Anda sedang mencoba untuk mengelola kecemasan antisipatif (Perencanaan tentang apa-apa saja yang bisa salah di masa depan) dengan kecemasan situasional Anda (Mengalami apa yang mungkin akan salah). Maka hafalkan tiga baris pertama dari presentasi Anda. Hal ini akan menggeser otak Anda dari mode panik ke mode pengambilan memori.

3. Mulai dengan baris pertama.

Kalimat pembuka seperti “Halo semuanya, terima kasih telah datang. Saya senang berada di sini” tidaklah cukup. Anda perlu mempersiapkan kalimat pengantar yang mampu membawa energi Anda, penonton, dan presentasi. Misalnya berbagi kisah pribadi atau kutipan yang kuat. Misalnya pengantar artikel ini menggunakan kutipan dari Mark Twain :-)

Lalu bagaimana soal kesopanan? Anda boleh menyimpan salam dan ucapan terima kasih untuk paragraf kedua. Pada saat itu, Anda sudah lebih hangat dan siap membawa audiens mengikuti alur presentasi anda.

4. Rencanakan dialog ketimbang monolog.

Mana yang lebih suka Anda lakukan: presentasi di depan sekelompok orang atau terlibat di sebuah percakapan dengan sekelompok orang? Anda pasti memilih yang terakhir. Dan begitu pula dengan audiens anda.

5. Hal teknis yang penting.

Jangan lupa untuk mengatur pernapasan anda. Rencanakan break selama beberapa menit setelah satu menit anda bicara sambil mengajak audiens untuk berinteraksi. Misalnya ketika anda mengajukan pertanyaan kepada audiens, memutar video yang relevan, dan mengumpulkan umpan balik. Ini akan memberikan audiens Anda kesempatan untuk terlibat sambil akan memberikan Anda kesempatan untuk bernapas, meminum seteguk air, melihat catatan, dan mengumpulkan potongan pikiran Anda untuk materi apa yang harus anda sampaikan hingga break selanjutnya. Ia bahkan memberikan Anda cukup waktu untuk merayakan fakta bahwa Anda berhasil melewati menit pertama tanpa pingsan.

Good luck ;-)

Loading...

  • 2
    Shares

Berikan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *