Tips Bisnis

7 Alasan yang Membuat Start-up Gagal Bertahan Hidup

 
  • 3
    Shares

Loading...

Alasan start-up gagal – Hadirnya perusahaan startup besar seperti Bukalapak, Go-jek, Traveloka, dan Tokopedia membuat banyak orang berfikir bahwa usaha startup adalah usaha yang menguntungkan.

Padahal, kenyataan berkata lain.

Para punggawa di Silicon Valley, Amerika Serikat (pusatnya bisnis startup dunia), bahkan memiliki keyakninan umum yakni 9 dari 10 start-up akan mengalami kegagalan.

Bisa dibilang peluang suatu start-up untuk gagal lebih besar dari peluang keberhasilannya.

Supaya start-up Anda tidak mengalami nasib naas, pelajari 7 alasan yang membuat suatu start-up bisa gagal di bawah ini.

start-up gagal karena market kecil
Sumber gambar: pexels.com/@buenosia-carol-116286

1. Market size kecil membuat start-up Anda kesulitan bertumbuh

Market size atau ukuran pasar adalah istilah yang merujuk kepada besarnya potensi keuntungan yang bisa didapat dari target market yang memiliki permasalahan yang hendak kita selesaikan lewat start-up kita.

Kesalahan yang biasa dibuat oleh para usahawan start-up adalah mengembangkan start-up dengan market size yang kecil karena terlalu fokus pada menyelesaikan masalah yang menurut mereka keren.

Padahal market size sendiri merupakan salah satu metric (indikator penilaian) penting yang dipertimbangkan oleh para investor lho.

bad user experience
Sumber gambar: pexels.com/@punttim

2. Produk yang buruk membuat pengguna berpindah ke lain hati

Produk, terutama dalam bentuk aplikasi digital merupakan ujung tombak suatu start-up untuk menggaet pengguna.

Produk yang baik, disertai dengan user experience yang oke membuat pengguna betah berlama-lama menggunakan aplikasi.

Namun, produk yang buruk akan berimbas kepada loyalitas pengguna.

Tak hanya itu, produk yang buruk juga membuat pengguna memberikan review yang jelek, menjadikan calon pengguna baru enggan menggunakan produk start-up Anda.

start-up mencegah kompetisi
Sumber gambar: unsplash.com/@joshchai

3. Tidak mampu mencegah kompetisi

Salah satu faktor yang membuat start-up mampu tumbuh hingga meraih gelar unicorn adalah minimnya kompetisi.

Tidak adanya kompetisi tersebut bukanlah keberuntungan yang terjadi secara acak, namun sedari awal sudah direncanakan.

Start-up yang sukses mampu menciptakan produk yang sangat bagus dan relevan dengan kebutuhan pengguna sehingga membuat para penggunanya betah dengan produk tersebut.

Produk tersebut mampu menarik banyak pengguna, membuat calon kompetitor kesulitan menemukan celah untuk memasuki pasar.

Contoh yang bisa penulis berikan adalah start-up Foodpanda.

Foodpanda sendiri adalah start-up yang menawarkan jasa pesan antar makanan. Di tahun 2016, Foodpanda memilih hengkang dari Indonesia lantaran tak sanggup berkompetisi melawat layanan sejenis (e.g. Go-Food).

bingung memahami pengguna
Sumber gambar: pexels.com/@rawpixel

4. Gagal paham dengan perilaku calon pengguna

Alasan keempat mengapa start-up gagal adalah karena suatu start-up tidak mampu menyesuaikan diri dengan kebiasaan pengguna.

Start-up seringkali tidak peka dengan kebiasaan pengguna dan memilih tetap keukeh dengan standar yang mereka miliki.

Hal ini bisa kita ambil contoh dari kegagalan Uber di Indonesia.

Menurut beberapa analis, kesalahan fatal yang dilakukan Uber adalah mereka tidak menyesuaikan diri dengan kebiasaan masyarakat Indonesia.

Kebiasaan yang dimaksud adalah dalam hal transaksi jual beli.

Mayoritas masyarakat Indonesia tidak memiliki kartu kredit dan melakukan transaksi lewat transfer bank atau tunai sementara layanan Uber mensyaratkan penggunaan kartu kredit untuk transaksi.

Alhasil kesalahan tersebut berujung fatal membuat Uber tidak mendapat perhatian calon pelanggan mereka di Indonesia.

start-up kekurangan pendanaan
Sumber gambar: pexels.com/@skitterphoto

5. Kurang atau tidak mendapat pendanaan

Pendanaan yang cukup adalah modal utama agar suatu start-up bisa tumbuh pesat.

Modal tersebut akan sangat banyak dialokasikan untuk keperluan marketing dan pengembangan produk.

Tanpa modal yang cukup, suatu start-up akan kesulitan untuk mengembangkan basis penggunanya dan nantinya akan tertinggal oleh kompetitor.

Salah satu sebab kurang atau tidak adanya pendanaan adalah start-up yang bersangkutan tidak getol menggaet investor atau malah investor tak tertarik berinvestasi di start-up tersebut.

bakar duit yang terlalu maksa
Sumber gambar: unsplash.com/@gooner

6. Terlalu boros dalam “bakar duit”

Ternyata tidak hanya kekurangan uang yang membuat start-up bisa gagal.

Start-up yang kebanyakan uang dan terlalu berfoya-foya dalam ritual “bakar duit” juga berpotensi gagal.

Btw, “bakar duit” yang dimaksud disini adalah kegiatan menghabiskan uang yang sering dilakukan perusahaan start-up untuk keperluan operasional (biasanya marketing).

Dalam usahanya mengembangkan start-upnya, para founder dan tim terlalu mengandalkan uang sampai-sampai mereka memberikan diskon gila-gilaan.

Bahkan hingga menggratiskan layanan mereka.

Namun, hal tersebut tidak dibarengi dengan strategi monetisasi yang tepat sehingga membuat pengguna terlena dengan layanan gratis dan enggan membayar.

Lambat laun pola tersebut membuat start-up kesulitan menghasilkan keuntungan.

tim yang buruk menghancurkan perusahaan
Sumber gambar: pexels.com/@pixabay

7. Tim yang buruk bagaikan fondasi yang rapuh

Start-up adalah usaha yang serius. Terlebih lagi bagi start-up yang mendapat pendanaan, urusan sumber daya manusia tidak boleh disepelekan.

Tim start-up haruslah terdiri dari orang-orang yang sudah ahli di bidangnya masing-masing.

Selain itu mereka juga dituntut untuk cakap dalam hal teamwork dan mampu bekerja secara lincah (agile).

Apabila tim start-up tidak memiliki karakteristik di atas, dapat dipastikan start-up tersebut akan kesulitan berkembang.

7 alasan di atas adalah segelintir faktor yang menyebabkan kegagalan suatu start-up.

Tentu ada faktor-faktor lain yang juga turut berperan.

Namun, penulis yakin jika 7 hal tersebut mampu diatasi, start-up yang Anda bangun akan memiliki masa depan yang lebih cerah.

Baca juga artikel menarik lainnya:

6 Fakta Generasi Millenial yang Perlu Diketahui Pebisnis Online

5 Tips Produktif di Co-working Space

Benci Pada Bos? 5 Tips Bijak Ini Solusinya

Loading...

  • 3
    Shares

Berikan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *