Leadership

Anda Yakin Sudah Mendengarkan Pelanggan?

 

Loading...

Apakah yang Anda ketahui tentang mendengarkan dan mengerti kemauan pelanggan? Dalam kehidupan sehari – hari saja kita tahu bahwa ada 2 buah kata yang hampir sama, yaitu “Mendengar” dan “Mendengarkan”. Tapi apakah Anda tahu jika keduanya ini sangatlah berbeda. Berbeda dalam arti yang lebih luas, karena masing – masing memiliki arti yang hampir sama, yaitu proses menerima informasi yang disampaikan oleh orang lain.

Mendengar dan Mendengarkan memang terkesan sama dan tidak ada bedanya. Tapi jika kita menerapkan dalam kehidupan bisnis kita, tentu ini sangat berbeda. Mengapa bisa begitu?

Dalam beberapa kasus, kata mendengar akan terkesan hanya proses menerima informasi melalui kedua telinga yang kemudian disampaikan ke otak. Setelah itu apa? Bahkan jarang mendengar akan membawa kita ke proses berupa tindak lanjut lebih jauh.

Sedangkan ketika kita memahami apa itu “Mendengarkan”, maka kita akan paham bahwa saat kita mendengarkan kita juga akan berusaha untuk mengerti apa yang dimaksud dan bahkan tidak ragu untuk melakukan apa yang didengarkan. Seperti sebuah perintah yang disampaikan atasan kepada kita, saat kita hanya mendengar maka jelas tidak akan ada aksi dari perintah tersebut. Tapi saat kita benar – benar mendengarkan, maka kita akan mencari tahu dan memahami perintah tersebut dan melaksanakannya.

Itulah mengapa sebuah bisnis perlu “Mendengarkan” bukan hanya sekedar “Mendengar”. Terlebih ketika sebuah bisnis harus mengutamakan kebahagiaan pelanggan. Semua yang dilakukan harus bersumber dari kebutuhan pasar/pelanggan, dan semua yang dilakukan harus benar – benar ditujukan untuk pelanggan.

Sebuah bisnis tidak akan bertahan lama, ketika mereka tidak mampu mendengarkan apa keluhan, kebutuhan, kritik dan saran dari pelanggan. Seolah – olah bisnis tersebut hanya berjalan pada jalan yang mereka inginkan dan tentukan sendiri. Bukan apa yang diinginkan pelanggan sebagai sumber dari kesuksesan bisnis itu sendiri.

Seperti salah satu yang dicontohkan oleh PT Prudential Life, dengan jargonnya yang khas “Always Listening Always Understanding”. Sebuah jargon yang terkesan hanya mengumbang janji, tapi melalui sebuah survey yang dilakukan kepada para nasabah, ternyata mereka mampu membuktikan bahwa benar – benar mendengarkan apa yang diinginkan nasabah mereka.

“Mendengarkan” juga bukan hanya harus dilakukan kepada pelanggan saja, tetapi juga kepada pihak internal dari bisnis itu sendiri. Sebagai atasan kita juga harus “Mendengarkan” apa yang dibutuhkan oleh bawahan atau reka kerja mereka, begitu juga sebaliknya. Sebuah perusahaan harus mau mendengarkan apa yang dibutuhkan oleh karyawan mereka, kritik dan saran apa yang disampaikan oleh karyawan kepada perusahaan, serta keinginan apa saja yang diharapkan ada untuk karyawan. Perusahaan tidak harus mengabulkan atau merealisasikan setiap apa yang dibutuhkan. Dengan komunikasi yang baik kepada karyawan, maka segala kebutuhan bisa disesuaikan dengan kemampuan dari perusahaan sendiri.

Pelanggan adalah salah satu nyawa dari bisnis kita. Ketika kita sudah bersusah payah mencari mereka dan mengajak mereka untuk bergabung bersama bisnis kita, tentu kita ingin mereka terus bertahan dengan jangka waktu yang lebih lama lagi dengan bisnis kita. Salah satu caranya jelas dengan mengetahui dan memahami apa yang mereka butuhkan. Mendengar saja tidak cukup untuk memberikan mereka kebahagiaan. Karena ketika kita mampu memberikan rasa senang kepada mereka, mereka akan secara otomatis kembali kepada kita.

Lalu bagaimana dengan Anda? :)

Baca juga:

Kenali Jenis – Jenis Pelanggan Anda

Biarkan Pelanggan Berkata “WOW” saat Promosi Word of Mouth Bisnis Anda

Cara Mudah untuk Membangun Antusiasme Pelanggan

Loading...

1 komentar

  • 13 Oktober 2014 - pukul 9:13

    Pelanggan adalah raja, dan kita sebagai pengusaha atau pemilik toko adalah pelayan bagi sang raja tersebut. Melani pelanggan salah satu caranya adalah mendengarkan keluh kesah tentang saran atas kekurangan kita.

    Mendengarkan kelihatannya mudah, namun sebagai pendengar haruslah benar-benar mengetahui apa yang pelanggan katakan kepada kita. Salah yang kita dengar bisa menyebabkan informasi yang kita dapatkan salah juga. Apa lagi ini berkaitan dengan masalah produk, klien, dan lain-lain.

Berikan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *