Leadership

Belajar Marketing dari Seorang Bapak Loper Koran. Kenapa Tidak?

 

   

Saya teringat dengan nasehat mentor bisnis saya yang mengatakan bahwa apa yang disebut marketing itu adalah bagaimana kita memberi.

Seperti cerita yang baru-baru ini saya dapatkan. Bukan dari marketer yang sudah malang melintang hingga meraup milyaran rupiah. Namun kita akan kembali ke era marketing 101. Datangnya dari seorang bapak penjual koran tempat saya berlangganan di daerah Sidoarjo.

Saya tidak pernah tahu namanya. Namun Bapak penjual koran ini berperawakan gendut dan sering tersenyum. Itulah Kesan Pertama yang selalu saya dapatkan. Saya masih ingat pertemuan pertama kami terjadi saat saya menemani suami membeli koran tiap akhir minggu. Di bawah jembatan layang daerah Sidoarjo, ada banyak sekali loper koran berjejer2. Secara tidak sengaja kami mampir ke stan beliau yang kebetulan letaknya di bagian paling ujung deretan. Beda dengan penjual koran pada umumnya, sebelum menyerahkan koran tersebut kepada kami, beliau selalu memberikan garansi. Yakni dengan menunjukan kepada kami bahwa koran yang kami beli halamannya lengkap.

Selain itu beliau selalu berterimakasih dengan tulus. Jika anda rasa ucapan terima kasih itu sudah biasa, maka selain berterimakasih, beliau memberikan bonus di luar ekspektasi kami. Yaitu sekedar sebuah nasehat sederhana agar kami berhati-hati dan menengok ke belakang sebelum kami menyalakan motor.

Semenjak itu, kami sepakat untuk membeli koran di beliau. Di tengah itu, beliau menunjukkan konsistensi. Ketulusan beliau dalam memberi pelayanan terbaik semakin terlihat. Saat musim hujan, walau tidak hujan sekalipun, setiap pembelian koran akan diberi tas plastik. Bahkan di waktu lain hari saya melihat beliau dengan tulusnya menolong kakek-kakek yang sedang turun dari mikrolet. Inilah yang saya sebut dengan jiwa melayani. Sebuah hal sederhana yang tidak terlihat hingga seringkali terlewat dari perilaku seorang marketer.

Mungkin tulisan saya kali ini terkesan sangat personal. Namun dari cerita sederhana ini, kita bisa simpulkan bahwa apabila kita memiliki usaha dan memberikan pelayanan yang terbaik, maka inilah marketing terbaik yang bisa kita lakukan. Sisanya hanya masalah teknis.


Artikel Terkait

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *