Interviews

Bermanfaat untuk Masyarakat dengan Teknologi, Reblood Penyemangat untuk Donor Darah

 
  • 92
    Shares

Loading...

Setelah produk makanan yang kini mulai ramai dipasarkan secara online, kini muncul inovasi baru dari remaja berprestasi. Dari hal yang tidak mungkin dan sulit, kini semuanya menjadi sangat mungkin. Reblood Indonesia, sebuah startup yang didirikan oleh Lenika Sari Njoto Boedioetomo(22) merupakan sebuah aplikasi yang membant masyarakat menemukan informasi seputar donor darah. Aplikasi ini menghubungkan antara PMI dengan rumah sakit dalam lingkup nasional. Bagaimana ya kisahnya? Ini dia uraian wawancara kami dengan wanita yang biasa dipanggil Leo ini.

reblood2

Bisa diceritakan mbak bagaimana awalnya mbak masuk ke dunia ini dan mulai menciptakan inovasi terbaru di masyarakat ini?

Awal mula saya memutuskan untuk menjadi entrepreneur atau membangun startup dimulai tahun 2014. Berawal dari mengerjakan project aplikasi untuk bank darah dan rumah sakit, saya dan rekan-rekan memutuskan untuk bisa melakukan manfaat yang lebih besar melalui entrepreneurship. Karena kami yakin bahwa entrepreneurship bisa membawa kesejahteraan lebih terhadap masyarakat luas.

Pengorbanan yang saya lakukan terutama adalah waktu dan kesempatan. Saya menghabiskan waktu yang sekiranya dapat digunakan untuk diri sendiri (main, nonton, dsb), serta kesempatan untuk bekerja di perusahaan. Tapi saya sudah mantap untuk melakoni dunia startup dengan fokus setelah lulus kuliah.

Menciptakan aplikasi ini untuk masyarakat, apa sih latar belakangnya?

Berawal dari berita-berita yang sering kami dengar terkait kebutuhan darah oleh pasien di rumah sakit serta kebutuhan darah nasional yang belum terpenuhi setiap tahunnya (hanya terpenuhi 3,8 dari 4,8 juta kebutuhan), kami mencari penyebab-penyebab permasalahan tersebut. Kami menemukan bahwa diperlukan waktu yang cukup lama (sekitar 30 menit) untuk melakukan pemesanan darah oleh rumah sakit, karena proses yang masih manual padahal bisa dilakukan lebih cepat dengan bantuan IT, sehingga lahirlah BloobIS.

Dan terkait kekurangan donor darah di Indonesia, kami mengetahui bahwa banyak rekan-rekan kami terutama mahasiswa yang ingin mendonorkan darah secara rutin, namun tidak terwujud karena beberapa hal, antara lain:

  • Tidak sempat untuk ke PMI kota, sehingga merasa lebih sempat jika mengikuti event donor darah yang diadakan di kampus.
  • Event donor darah sudah diadakan secara rutin di kampus, namun banyak yang tidak tahu kapan dan dimana.
  • Hanya 40% orang yang hadir di event dapat melakukan donor darah. Kelihatannya cukup banyak yang datang ke  event donor darah, namun kenyataannya banyak yang ditolak karena tidak memenuhi syarat, terutama Hemoglobin yang rendah atau tekanan darah yang tidak memenuhi, biasanya akibat kurang tidur atau pola makan tidak teratur.

Lalu bagaimana cara mbak mengenalkan Redblood ke masyarakat?

Kebetulan saat ini BloobIS sedang dalam masa hibernasi karena belum compatible dengan sistem blood supply chain di Indonesia secara nasional. Reblood sendiri baru saja dilaunch akhir Mei 2015, dengan user yang terfokus pada gen Y, seperti mahasiswa. Di awal launching Reblood, kami juga mengadakan event bernama Reblood NOW, sebuah event donor darah bekerja sama dengan Start Surabay dan Spazio, pada tanggal 8 Juni 2015 dalam rangka menyambut World Blood Donor Day (14 Juni) sekaligus memperkenalkan Reblood.

Sebagai startup baru dengan inovasi yang cukup mencengangkan, prestasi apa nih yang kira – kira sudah perna diraih?

Secara beruntung, BloobIS meraih Juara 1 pada Mandiri Young Technopreneur 2013 kategori IT, serta mengantarkan saya hingga ke MIT untuk mengikuti MITx Global Entrepreneurship Bootcamp 2014, sebuah pelatihan entrepreneurship secara intensif yang sebelumnya melalui seleksi ketat dari 55.000 lebih orang  sedunia.

Reblood sendiri baru saja meraih 2nd Winner pada Star Surabaya Bootcamp dan Juara 1 kategori Aplikasi Web-Desktop pada ajang Cakrawala Awards.

Wah hebat sekali ya, Nah sebagai anak muda yang aktif pengalaman apa nih yang paling berkesan selama mbak menjalankan startup ini?

Pengalaman berkesan hingga saat ini adalah mengikuti program akselerasi startup dari Start Surabaya. Karena di sana saya bisa belajar dengan startup-startup lain yang hebat dari Surabaya, serta dapat mengikuti sesi bersama mentor yang luar biasa.

Adakah tantangan yang paling membuat mbak bersemangat dalam menjalankan startup ini?

Ketika harus mengelola tim dengan teamwork yang dituntut untuk maksimal, dimana semua anggotanya masih berstatus mahasiswa dengan kesibukannya masing-masing, tapi harus tetap profesional dan kekeluargaan.

Untuk rencana kedepannya sendiri, Reblood ingin menjadi seperti apa mbak?

Sejak awal startup ini berdiri, kami menargetkan bahwa aplikasi yang kami bangun dapat membantu banyak orang, terutama dalam hal donor darah. Hingga tahun depan kami menargetkan untuk dapat memperoleh 1000 donor darah, baik melalui Reblood maupun event donor darah yang kami adakan.

Wah, semoga segera terwujud ya mbak. Lalu adakah saran yang ingin mbak bagikan kepada para pembaca Mebiso?

Kenali customer Anda dengan baik, dari merekalah kita bisa belajar tentang masalah apa yang dapat kita selesaikan, dan bagaimana kita sebaiknya membangun produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Entrepreneurship sejujurnya bukan jalan yang mudah, perlu kesabaran dan kerja keras dalam menjalaninya, so jangan pantang menyerah, karena gagal sudah menjadi hal yang pasti Anda alami dalam dunia entrepreneur.

Terima kasih mbak Leo untuk waktu dan kesempatannya berbagi cerita dengan kami. Semoga Reblood sukses selalu :)

Begitulah sekilas percakapan kami dengan founder dari Reblood. Wanita yang sangat mengidolakan William Soeryadjaya, yaitu pendiri dari Astra International sebagai yang menginspirasinya dalam memili jalan sebagai seorang entrepreneur.

Baginya menjadi pegawai atau entrepreneur sama-sama melakukan hal yang baik dan bermanfaat. Perbedaannya terletak pada seberapa besar dampak yang diberikan kepada masyarakat dan diri sendiri.

Leo sendiri memberikan sedikit tips bagi para entrepreneur, yaitu jangan pernah manja dan merasa susah untuk belajar. Google sudah menyediakan banyak resource yang bahkan bisa dipelajari secara mandiri. Tools yang disediakan juga sangat banyak, GRATIS dan mudah untuk dipelajari. Hanya tinggal niat Googling atau tidak.

Loading...

  • 92
    Shares

Berikan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *