Insider

Camelia Farhana, Ternyata Begini Rasanya Menjaga Komitmen dan Kepercayaan untuk Kesuksesan

 

Loading...

Kehidupan sesekali membawa kita ke dalam arus tak terduga. Bisa tiba tiba berhadapan dengan kesempatan emas, orang penting, akses bagus, sebuah pesan yang harus dijaga, dan lain sebagainya.

Dalam dunia bisnis, itu semua hal yang biasa. Dimana strategi dan manajemen waktu harus selalu jadi kekuatan.

Komitmen dan kepercayaan, dua hal yang berkaitan. Dimana jika seseorang tidak bisa berkomitmen, akan menimbulkan keraguan untuk orang lain. Sehebat apapun individu, service, produk apapun itu. Apabila tidak bisa berkomitmen akhirnya akan ketinggalan dengan generasi baru yang mungkin jauh punya nilai saing tinggi.

Contohnya, seseorang yang memiliki bisnis di bidang jasa transportasi dan cukup terkenal di bidangnya. Suatu ketika berencana merambah bisnis kuliner. Akhirnya orang tersebut membuka rumah makan dan lebih sibuk dengan rumah makan tersebut. Akhirnya ketika ada tawaran besar untuk bisnis transportasi dia tidak punya waktu untuk fokus dengan hal itu meskipun punya pegawai atau orang kepercayaan. Sehingga, klien pun pergi meninggalkannya dengan vendor lain yang dirasa dapat memenuhi kebutuhan.

Lalu seiring berjalan waktu, rumah makan tadi tidak berjalan baik karena adanya pandemi corona dan tidak bisa beroperasi. Saat yang sama, pemilik usaha tersebut memutuskan untuk kembali fokus dengan usaha transportasi miliknya.

Memang usaha transportasi tadi kembali beroperasi dan baik baik saja. Tapi citra tidak punya komitmen dan mudah goyah menjadi tampak nyata untuk sebagian orang yang menyaksikan hal ini.

Saya pernah mengalami hal tersebut. Pada tahun 2016, tepat 2 tahun berbisnis di bidang agency dengan TVC. Suatu ketika, saya mendapat tawaran yang cukup menarik, yaitu menjalankan vendor dekorasi masih milik saudara.

Secara teknis, selama saya menjadi agency untuk iklan, saya jarang sekali pulang ke rumah. Sering menginap di hotel akibat ada jam shooting yang cukup pagi sekali. Selama 2 tahun rutinitas begitu membuat saya bosan dan merasa lelah. Akhirnya ketika mendapat tawaran bergelut dengan dekorasi pernikahan saya tertarik. Apalagi dekorasi sendiri punya nilai kreatifitas. Selain itu, bidang jasa satu ini bisa mengandung nilai baik untuk para pengantin baru.

Untuk teknis sendiri, menjadi vendor dekorasi tidak semulus dan seindah yang dibayangkan. Jika sebelumnya saya berhadapan dengan PH (Production House) untuk menerima kategori talent yang diinginkan dengan jelas, berbeda dengan vendor dekorasi ini. Setelah deliver moodboard dan lain sebagainya, kerap kali saya menemukan klien yang berubah pikiran terhadap rencana awal. Dari mulai pilihan bunga yang ingin diganti, detail detail tertentu yang dirubah warna, bahkan pernah saya alami klien yang reschedule tanggal pernikahannya. Meskipun segala perubahan tadi ada konsekuensi bagi klien, kerugian waktu dan strategi saya koordinasi dengan hal lain tentu saja tetap jadi bagian dari resiko.

Seiring berjalan waktu, ternyata saya sadar, pengalaman yang saya dapat selama ini belum cukup untuk menjadi seorang pengusaha. Namun bagaimana kita berusaha menghadapi itu semua, dari cara memutuskan sesuatu, melihat peluang, serta menjaga hubungan baik dengan berbagai pihak.

Tahun 2017 bulan November, saya dipertemukan dengan salah seorang pengusaha kebangsaan Jerman. Dia adalah rekan dari saudara saya yang saat itu memiliki usaha vendor dekorasi pernikahan. Awalnya, saya dikenalkan untuk menjadi orang kepercayaan pengusaha tersebut untuk ditempatkan di Singapore. Sayangnya, saya tidak mendapat izin pihak keluarga untuk mengambil kesempatan ini.

Dua bulan setelah saya menolak, akhirnya beliau menawarkan saya untuk mengelola bisnis properti di Indonesia dan semua disewakan. Akhirnya saya menerima tawaran ini. Bisa dibilang, posisi saya sebagai protokoler. Saya mengatur, melaporkan, juga mencari jalan keluar dari permasalahan yang terjadi. Properti yang tersebar di berbagai kota di Indonesia, diantaranya Aceh, Bogor, Bandung dan Bali.

Sebagai seorang investor, tentunya ada orang Indonesia yang menjadi owner resmi dari masing masing properti yang didirikan, itulah sebabnya kenapa hingga saat ini saya mengenal banyak pengusaha dan orang penting lainya. Semua berawal dari ketidak sengajaan.

Menjadi seorang tangan kanan dari sosok pemilik nama baik dan juga citra yang bagus tidak begitu saja membuat saya lolos dari tantangan. Sering kali saya dimanfaatkan, bahkan dicurangi oleh pihak pihak yang tidak suka dengan keberadaan saya. Namun, komitmen dan niat baik senantiasa melindungi saya.

Pernah suatu ketika saya mendapat tugas untuk mensurvey sebuah lokasi di Aceh. Dimana tugas saya yaitu membuat laporan atas lokasi yang dituju. Singkat cerita, supir yang menjemput saya dari bandara merupakan orang lain yang seharusnya ditugaskan. Jadwal yang seharusnya 2 hari selesai, kini menjadi 4 hari. Hal tersebut jelas membuat saya takut untuk awal awal. Tapi, ketahuilah, hal semacam ini hanya sebagian kecil dari pengalaman saya menghadapi sesuatu “gak enak” atau diluar dugaan.

Tulisan ini ditulis oleh Camelia Farhana
Instagram: https://www.instagram.com/cameliafarhana/

Camelia Farhana bersama Wempy Dyoctakoto, salah satu pengusaha, investor asal Indonesia yang saat ini tinggal di Australia.
Loading...

Berikan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *