Start A Business

Enterpreneur Sukses dengan Emotional Intelligence

 

   

Emosi seseorang mampu menentukan kesuksesan dari masa depan seorang pemimpin. Pemimpin yang tidak mampu mengendalikan emosi dengan baik, ia tidak mampu membawa bawahannya kedalam perubahan yang lebih baik. Ada kalanya seorang pemimpin atau enterpreneur tidak terlalu memikirkan tentang bagaimana IQ mereka, tetapi EI tetap menjadi perhatian, karena ini mempengaruhi kinerja enterpreneur, karyawan dan bisnis itu sendiri. EI bukanlah hal yang tabu untuk dipeajari, semua orang bisa mempelajari apa itu EI. Seorang enterpreneur bisa mencapai kesuksesan dengan EI mereka ketika mampu meningkatkan kemampuan berikut ini:

1. Kesadaran diri

Menjadi seorang enterpreneur bukan hanya harus memiliki sikap semangat dan pantang menyerah yang tinggi, namun jika dilihat dari emotional intelligence, seorang enterpreneur harus memiliki kesadaran dri. Disamping fakta bawa suasana hati yang sejalan dnegan fikiran, enterpreneur jarang memerhatikan bagaimana mereka saat mulai merasakan. Hal yang sangat signifikan terjadi saat pengalaman emosional sebelumnya memberikan konteks untuk pengambilan keputusan.

2. Mengelola emosi

Memiliki bisnis yang dirintis sejak awal tentu saja menjadi cerita tersendiri bagi para enterpreneur. Ada kalanya seorang enterpreneurmerasa tidak sabar atas keuntungan dan balik modal yang akan didapatnya. Ini yang bisa memicu timbulnya emosi ketika ada suatu kesalahan atau ketidakcocokan pada suatu aspek yang dikerjakan. Namun semua itu bisa diatasi ketika para enterpreneur mampu mengelola emosi dengan baik. Baik emosi kepada pelanggan, kepada karyawan, kepada pekerjaan atau kepada diri sendiri.

3. Memotivasi orang lain

Enterpreneur bukan hanya bekerja untuk dirinya sendiri, akan ada banyak yang bekerja padanya. Ini yang mengharuskan enterpreneur untuk mampu memotivasi orang lain atau karyawan yang bekerja padanya. Bukan tanpa alasan ketika memotivasi karyawan harus selalu dilakukan. Ini demi kemajuan dan kesuksesan produksi dan penjualan dari produk yang dihasilkan. Terkadang karyawan akan merasa lebih dihargai, lebih dipercaya dan nyaman saat bekerja ketika mereka menerima motivasi atau dorongan dari atasan.

4. Menunjukkan empati

Sisi sebaliknya dari kesadaran diri adalah mampu memahami dengan benar apa yang terjadi di lingkungan, baik pada karyawan, lingkungan sekitar area bisnis, lawan atau pesaing dan konsumen. Ini yang akan membantu sikap empati kita perlahan muncul dan berkembang dengan baik. Kita juga harus mampu menyesuaikan antara empati yang kita miliki dengan emosi orang lain.

5. Tetap terhubung

Semua aspek diatas harus terhubung, karena emosi itu menular, ada transaksi tak terlihat yang terjadi antarindividu dalam setiap interaksi, yang membuat kita merasa sedikit lebih baik atau buruk. Goleman menyebutkan tentang ‘ekonomi rahasia’ dan hal ini menjadi kunci untuk memotivasi orang lain.

Baca juga:


Artikel Terkait

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *