Leadership

Kenapa Metrik Nilai GPA Tidak Penting Bagi Calon Karyawan Google?

 
  • 3
    Shares

Loading...

Anda mungkin berpikir bahwa Google merupakan perusahaan yang paling terobsesi dengan angka dan data. Pendapat anda sama sekali tidak salah. Google rupanya memang selalu menganalisa setiap data trial & error perusahaan (terutama yang berkaitan dengan manajemerial). Salah satunya termasuk soal perekrutan.

Dalam sebuah wawancara dengan nytimes.com, Laszlo Bock, Senior VP Operasional SDM Google menjelaskan bahwa Google kini sudah tidak meminta IPK & nilai tes dari calon karyawannya lagi. Karena hal ini dianggap sama sekali tidak berkorelasi dengan prestasi karyawan ketika bekerja di perusahaan.

Bock memiliki penjelasan yang sangat baik tentang mengapa metrik tidak begitu berarti bagi Google.

“Lingkungan akademik adalah lingkungan buatan. Orang yang sukses di sini merupakan orang yang sudah dilatih demikian. Mereka dikondisikan hanya untuk berhasil dalam lingkungan tersebut,” katanya.

Sementara di sekolah, orang dilatih untuk memberikan jawaban yang spesifik, “Jauh lebih menarik jika anda bisa memecahkan masalah di mana tidak ada jawaban yang jelas,” kata Bock. “Anda akan lebih banyak membutuhkan orang-orang seperti ini. Yaitu mereka-mereka yang suka mencari tahu hal-hal di mana tidak ada jawaban yang jelas.”

Banyak pewawancara, manajer, perekrut, dan staf HR yang berpikir bahwa mereka memiliki kemampuan khusus untuk mengendus bakat. Rupanya mereka salah.

“Tahun lalu, kami melakukan penelitian untuk menentukan siapakah yang punya insting paling tajam dalam perekrutan,” kata Bock. “Kami meneliti puluhan ribu wawancara, dan mencatat semua pihak pewawancara dan bagaimana mereka menilai kandidat karyawan, hingga bagaimana kinerja kandidat tersebut akhirnya. Kami menemukan nol besar hubungan di antaranya.”

Kala itu, Google juga menerapkan metode permainan asah otak yang luar biasa sulit selama wawancara. Hal-hal seperti “Jika probabilitas pengamatan sebuah mobil dalam 30 menit di jalan raya adalah 0,95, berapakah probabilitas pengamatan sebuah mobil dalam 10 menit (dengan asumsi probabilitas konstan)?”

Menurut Bock pertanyaan ini hanya membuang-buang waktu saja. “Pertanyaan ini tidak memprediksi hasil apa-apa. Mereka hanya bertujuan untuk membuat pewawancara merasa pintar.”

Google menemukan bahwa satu-satunya hal yang bekerja adalah wawancara perilaku. Yaitu satu set pertanyaan yang meminta orang-orang menjawab dengan apa yang akan mereka lakukan jika terjebak dalam situasi tertentu.

Menurut Bock, banyak sekali praktek perekrutan yang seringkali digunakan karena kita tidak punya sesuatu yang lebih baik. Selama beberapa dekade, satu-satunya titik data yang (relatif) konsisten antar karyawan adalah IPK dan nilai ujian. Mereka adalah cara termudah untuk menyortir kandidat. Dan karena itulah, cara ini selalu digunakan, orang-orang terjebak di dalamnya.

“Sekarang, kita bisa melakukannya dengan lebih baik. Kita (Google) sudah punya key point yang bisa kita jadikan acuan, yakni Data.”

Hal terbaik tentang data adalah fakta yang absolut. Sulit bagi seseorang untuk mengelak. Bahkan ketika orang tidak mau percaya bahwa kinerja mereka buruk, maka akan sulit untuk bersengketa jika kita punya angka. “Bagi kebanyakan orang, cukup dengan mengetahui informasi tersebut dapat menyebabkan mereka untuk berubah,” kata Bock. [nytimes.com]

Loading...

  • 3
    Shares

Berikan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *