Interviews

Kisah Adhika Membangun Majalah Bisnis Studentpreneur

 
  • 10
    Shares

   

Adhika Dwi Pramudita adalah founder majalah bisnis Studentpreneur. Di usianya yang relatif muda (24 tahun), pencapaiannya sangat luar biasa. Studentpreneur telah tersebar di seluruh jaringan toko buku Gramedia. Saya sering sekali menjumpai Adhika di berbagai kegiatan enterpreneur di Surabaya, karena rupanya Studentpreneur sendiri berbasis di Surabaya. Maka suatu ketika Adhika menyempatkan waktunya untuk berbagi cerita seputar pendirian Studentpreneur kepada Mebiso.

Halo mas Dika, bisa ceritakan sedikit tentang Studentpreneur?

Studentpreneur adalah majalah bisnis untuk anak muda yang terbit setiap bulan. Untuk segmentasi anak muda, Studentpreneur kini jadi majalah bisnis paling populer di Indonesia menurut TechinAsia.com.

Kenapa majalah bisnis mas, di luaran sana kan sepertinya sudah cukup banyak?

Memiliki media sendiri adalah perwujudan dari cita-cita saya sejak kecil. Apalagi sebelum ada Studentpreneur, di Indonesia tidak ada media jurnalistik yang khusus menyasar ke anak muda yang ingin bisnis. Justru media jurnalistik cenderung memberitakan kita (anak muda) sebagai oknum yang suka hura-hura. Padahal pada kenyataannya banyak sekali anak muda yang ingin bisnis dan punya kemauan yang keras untuk menjalaninya tapi dia belum punya referensi bacaan. Dari Studentpreneur, kami punya visi untuk memunculkan satu juta enterpreneur muda di Indonesia pada tahun 2018, dimulai dari pembaca Studentpreneur sendiri.

Bedanya Studentpreneur dengan majalah bisnis lainnya?

Majalah bisnis pada umumnya cenderung ambil segmentasi untuk pembaca yang sudah tua dan sudah senior. Mereka membahas mengenai perusahaan-perusahaan besar sehingga ketika dibaca anak muda, pembaca mudanya gagal related dengan isi konten. Jadi menurut saya sah-sah saja jika mereka berpikir bahwa majalah bisnis itu boring banget.

Apa yang selama ini sudah dilakukan Studentpreneur untuk mengubah kesan majalah bisnis yang boring?

Di Studentpreneur, kami selalu berusaha men ciptakan konten yang lebih fun dan bisa diterima oleh kalangan anak muda. Contohnya pemilihan narasumber. Mostly narasumber kita adalah mereka yang masih sekolah, kuliah, atau sudah lulus pun masih beberapa tahun. Rata-rata di bawah 30 tahun. Kita ingin menunjukkan pada pembaca muda kita kalau anak-anak seumuran mereka itu bisa bikin bisnis. Kita ingin konten kita lebih menjangkau dan menginspirasi mereka.

Studentpreneur-2013

Berbagai tampilan cover Studentpreneur selama tahun 2013

Ada mitos yang menyebutkan bahwa Anak muda toh nggak suka membaca. Bagaimana menurut Anda?

Uniknya, ketika pertama kali pitching ke investor, saya ingat betul ada seorang investor yang pernah mengkritik keras dengan mitos yang sama. Dia bilang, “Siapa yang mau beli majalah kalian? Anak muda itu nggak ada yang suka baca. Kalau kamu mau bikin media bisnis, kamu bikinlah media bisnis yang normal dong”.  Kenyataannya, kini saya bisa ngomong ke beliau kalau Studentpreneur bisa tumbuh dengan sangat cepat. Kita punya 15 ribu pembaca. Angka ini jujur masih kecil banget. Tapi surprising untuk usia kita yang masih belia. Artinya peminatnya ada. Validasi market berhasil. Anak muda suka membaca.

Sejak kapan majalah Studentpreneur disebarkan?

Awalnya kita start di digital. Edisi pertama Studentpreneur keluar pertama kali pada bulan Februari 2013. Saat itu majalah digital kita masih kita bagi-bagikan secara gratis untuk test market. Semakin banyak pembaca, semakin banyak permintaan agar kami memunculkan edisi cetak. Maka sekitar bulan Juni 2013, kita bikinkan edisi cetak yang disebarkan di toko-toko buku Gramedia. Jadi kita baru jualan sejak Juni 2013.

Hanya cetak saja atau?

Studentpreneur juga tersedia versi digitalnya mas. Pembaca bisa download di Wayangforce atau Scoop. Kemarin di WayangForce, kita sempat jadi bestseller.

Kenapa tidak fokus di digital saja? Kenapa cetak?

Bagi saya, kalau kita punya versi cetak, kredibilitas kita akan naik. Advertiser lebih trust. Sampai sekarang pun kita nggak kesulitan untuk monetizing padahal media digital kalau mau jujur-jujuran, pasti masih banyak yang kesulitan dari segi monetizing.

Kendala yang pernah muncul sepanjang perjalanan Studentpreneur sampai sekarang, dan bagaimana Anda mengatasinya?

Mungkin problem-problem di awal kemunculan Studentpreneur. Menurut saya masalah klasik bagi Startup sih sebenarnya. Yaitu modal tanpa revenue. Startup memang biasanya dimulai dengan modal, namun seringkali tanpa revenue. Begitu pula di Studentpreneur. Begitu kita dapat revenue, kita langsung putar untuk keperluan development. Karena di tahap ini, bagi saya yang terpenting adalah growth.

“Maka sebagai pemilik Startup kita harus menemukan cara terbaik untuk bisa bertumbuh secara efisien.”

Di Studentpreneur, edisi cetak kita sesuaikan dengan jumlah pembaca kita. Misalnya kalau sekarang 15 ribu, ya kita cetak 15 ribu eksemplar saja. Studentpreneur tumbuh dengan permintaan pelanggan.

Super sekali. Menurut mas Dika, akankah Studentpreneur pivot ke arah lain, misalnya di luar core market Studentpreneur sekarang?

Sekarang saya belum bisa ngomong. Karena sekarang masih ada ruang bagi kita untuk bertumbuh. Mungkin kalau nanti growth kita sudah mati, kita akan pikirkan lagi untuk validasi ide ulang atau cari market lain. Tapi so far pertumbuhan kita sampai sekarang ada 2 kali lipat perbulan. Jadi selama masih ada room for improvement, kita belum ada pikiran untuk terjun ke market lain.

Menurut Anda, Apa yang paling dibutuhkan ketika memulai sebuah bisnis?

Menurut saya, sebuah bisnis harus muncul untuk menjadi solusi bagi masalah yang nyata. Studentpreneur pun muncul karena kita ingin menyelesaikan suatu masalah. Yaitu sebagai anak muda, bacaan bisnis kita tidak ada yang cocok dan stuck di satu tempat saja.

Visi Studentpreneur adalah memunculkan satu juta enterpreneur muda di Indonesia pada tahun 2018. Upaya apa yang sudah anda lakukan untuk mewujudkannya?

Kami sadar bahwa untuk mencapai visi yang besar, maka konten saja masih belum cukup. Jadi selain majalah, kami juga rutin bikin event di mana kita mempertemukan enterpreneur senior untuk sharing dengan mereka yang terinspirasi untuk berbisnis. Salah satu yang berhasil kita datangkan kemarin adalah Porter Erisman (mantan VP Alibaba.com) untuk screening film dokumenter Crocodile in the Yangtze di Surabaya. Kita juga sering menyelenggarakan sesi pitching dengan mengundang sejumlah investor agar mereka yang baru berbisnis bisa pitching bisnis mereka secara langsung ke investor.

Kenapa Anda memilih menyelenggarakan event, sejauh mana aktivitas ini efektif untuk mendukung usaha mencapai visi Anda?

Sangat efektif sekali. Event menurut saya adalah cara yang berkontribusi paling besar bagi growth kami sebanyak dua kali lipat setiap bulannya. Event kita pun yang datang adalah pembaca kami yang kemudian mengajak teman-temannya. Mereka yang awalnya tidak tahu Studentpreneur, jadi tahu. Mereka yang tidak membaca, kemudian jadi baca. Maka, kalau ditanya kenapa harus event? Karena memang wajib. Ini adalah strategi kita untuk membesarkan brand kita. Karena kita ingin growth dengan cepat.

Cerita paling berkesan selama penyelenggaraan event Studentpreneur?

Waktu roadshow Studentpreneur di Semarang. Saya sama sekali tidak menyangka hasilnya bisa full book. Padahal kita hanya promosi selama 2 hari melalui Facebook dan website Studentpreneur. Namun yang lebih mengesankan lagi adalah di akhir acara, mereka menyampaikan kalau mereka ingin mengadakan hangout sendiri secara rutin meskipun tidak ada pihak dari Studentpreneur. Ternyata, di kota-kota besar selain Jakarta, mereka butuh komunitas bisnis yang benar-benar bicara tentang bisnis. Model pembelajaran di Semarang ini saya rasa bisa diterapkan di kota-kota besar lain seperti Surabaya, Malang, Jogja, atau kota lainnya di Indonesia.

Tips terbaik yang bisa diberikan kepada enterpreneur lain yang sedang berjuang menjalankan bisnis mereka?

Bagi saya, uang adalah hal kedua. Uang memang penting, tapi jangan pernah mulai bisnis karena uang. Kalau passion driven anda cuma uang, maka bisnis akan gampang sekali untuk mati. Anda cuma boleh bikin Startup kalau anda rela kerja minimal 90 jam perminggu tanpa dibayar.

Terimakasih telah berbagi cerita anda dengan Mebiso. Semoga Studentpreneur semakin berkembang dan berhasil menciptakan 1 juta enterpreneur di tahun 2018. Good luck ;-)

           
  • 10
    Shares

Artikel Terkait

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *