Interviews

Prospek Animator di Dunia Bisnis Indonesia menurut @adhicipta

 
  • 12
    Shares

   

Masih adakah masa depan bagi lulusan jurusan animasi DI Indonesia? Tampaknya pertanyaan ini layak dilontarkan jika melihat seringnya proyek animasi di pertelevisian kita yang dikerjakan secara serampangan. Namun di tengah kondisi yang memprihatinkan ini, kita harus tahu bahwa piston mulai dipompa dan roda-roda gigi mulai bergesekan. Animasi lokal di Indonesia siap untuk tancap gas.

Adhicipta R. Wirawan adalah salah satu dari sekian banyak animator Indonesia yang saat ini tengah memperjuangkannya. Sedikit latar belakang, dia adalah salah satu co-founder Mechanimotion Studio, sebuah perusahaan kreatif lokal yang mengembangkan berbagai cerita fantasi dalam bentuk novel, komik, game, dan animasi. Salah satu produksinya, The Adventure of Wanara berhasil menembus pasar Jepang (versi komik), dan saat ini tengah dalam proses penggarapan untuk versi serial kartun animasi di pertelevisian Indonesia.

Suatu siang saya berkesempatan untuk bertemu dengan Adhicipta. Banyak hal yang kita obrolkan. Tentang personal experience as animator, latar belakang The Adventure of Wanara, hingga pandangan Adhicipta tentang masa depan animator di Indonesia.

Bukan di studio animasi, melainkan di sebuah ruang dosen Akuntansi Universitas Surabaya.

Halo Mas Adhi. Bagaimana ceritanya seorang dosen akuntansi Ubaya menjadi Animator (saya sendiri cukup terkejut ketika pertama kali dikabari tentang tempat pertemuan kami. Untungnya ada Google, belakangan saya ketahui bahwa Adhicipta memang seorang dosen Akuntansi di Universitas Surabaya)?

(Adhicipta tertawa) Saya sudah tidak kaget mas mendapat pertanyaan ini (kemudian mengangguk). Latar belakangnya, saya  memang ambil kuliah S1 dan S2 di jurusan Akutansi. Karena kala itu, orang tua melihat tingginya demand untuk profesi akuntan di masyarakat.

Kemudian jadi dosen?

Belum mas. Kemudian saya bekerja sebagai ilustrator di Kompas Gramedia. Minat menggambar saya lah yang mengantarkan saya kesana. Sempat ciut di awal pada saat perekrutan nasional, karena saingan saya mainly dari institut seni. Namun alhamdulillah dulu bisa tembus.

Nah baru beberapa tahun setelahnya, saya ditawari oleh salah satu mantan dosen saya untuk bekerja sebagai dosen di Ubaya. Saya ambil tawaran ini.

Kemudian jadi animator?

BlenderBoy

(Adhicipta tertawa) Pastinya, tidak begitu saja mas. Jika kita looking back, lingkungan kerja di Kompas Gramedia lah yang sedikit banyak kemudian memicu semangat kreativitas saya. Kala itu saya dikelilingi orang-orang yang mahir mengoperasikan aplikasi-aplikasi yang sangat canggih. Sementara saya masih mengenal Photoshop 3.0 ketika lulus SMA. Saya pun jadi semangat untuk mempelajari software terbaru. Sampai jadi hobi.

Kemudian sekitar tahun 2009, saya mengenal Blender (sebuah software Open Source 3D). Saya aktif bikin-bikin tutorial tentang Blender, bagaimana membuat karakter chibi dengan Blender (karakter BlenderBoy), hingga saya pun dimintai tolong oleh creator Blender untuk menjadi administrator forum mereka. Dari sinilah saya mulai belajar-belajar tentang seni 3 dimensi.

Kemudian muncul Wanara ya mas…

Nah, Wanara ini yang latar belakangnya cukup unik. Ceritanya tahun 2010, Telkom Indonesia punya program yang dinamakan Indigo Fellowship. Yaitu sayembara berhadiah uang tunai untuk ide berupa produk digital kreatif. Saya sempat menang 2 kali di tahun 2010 dan 2011. Saat itu masih belum berbentuk Wanara.

Proyek Wanara diawali dari sebuah buku Mastering Chibi Character. Chibi adalah budaya Jepang yang diterima dunia. Di dalam buku tutorial ini, saya masukkan unsur lokal yang khas Indonesia banget. Tujuannya sekedar untuk melakukan tes market.

Rupanya dengan harga 45 ribuan, relatif mahal saat itu, buku ini berhasil terjual lebih dari 15 ribu eksemplar. Artinya penerimaan masyarakat terhadap style chibi yang diimbuhi dengan unsur lokal cukup hangat. Data inilah yang saya bawa ke Indigo Fellowship.

Baru kemudian tahun 2012 saya ikut lagi. Kali ini hadiahnya bukan uang tunai, namun inkubasi bisnis dengan bendera baru, yaitu Indigo Venture. Saya berhasil memasukkan Wanara setelah belajar di tahun 2011 saya kalah dengan judul ANIMO / Animasi Motivasi dan judul Anoman juga kalah waktu ikut kompetisi Serial Animasi Kementerian Perindustrian karena dianggap terlalu banyak memasukkan unsur agama. Akhirnya nama Anoman kita putuskan untuk ubah ke dalam Wanara.

Berarti sampai sekarang sudah 5 tahun sejak ide Wanara terbentuk ya mas?

Betul sekali. Dan itu tidak apa-apa. Di Jepang, sebuah Anime tidak langsung begitu saja jadi sebuah Anime. Walaupun ada, mungkin jarang. Mayoritas lewat sebuah proses tes market dulu. Yaitu dari Light Novel seperti Sword Art dan Ragnarok. Atau dari Komik seperti Naruto dan One Piece. Nah kalau Wanara, kita mulai dari buku tutorial Mastering Chibi Character, kemudian kita buat Light Novel dulu, baru 1 tahun berikutnya jadi komik, kemudian jadi komik interaktif versi iOS, kemudian jadi games, dan saat ini tengah dalam proses pengerjaan episode pilot untuk serial animasi (episode 1-4). Roadmapnya jelas.

Mastering-Chibi-Character

Lagipula animasi itu easy come easy go. Sedangkan karya berupa tulisan akan bertahan lebih lama.

Bagi tips dong mas, apa yang harus dilakukan agar animator bisa menghasilkan sebuah karya?

Boleh. Mulailah dengan sebuah ide yang tervalidasi. Menurut saya, sampai sekarang ada stigma yang salah tentang sebuah ide. Animator berlomba-lomba menyembunyikan idenya karena takut dicuri. Padahal, sebuah ide lebih baik direalisasikan dulu ke dalam karya yang nantinya digunakan untuk tes market dulu. Apakah ide tersebut bisa diterima masyarakat dengan baik atau tidak.

Atau, ada yang cuma sekedar bikin saja. Kemudian sudah lolos uji tes market, misalnya dengan upload animasi di Youtube, dia sudah dapat ratusan ribu view. Tapi sayangnya, tidak ada tindak lanjutnya.

Ya, mau bagaimana lagi ya mas. Saya lihat studio animasi di Indonesia kan tidak begitu banyak. Begitu pula dengan investor yang tertarik di sini…

Lho. Studio animasi di Indonesia banyak mas. Tapi sampai sekarang, sayangnya masih kerja sendiri-sendiri. Tidak ada persaingan yang positif di sini. Padahal kalau kita bisa saling berkolaborasi, misalnya satu studio menghasilkan sebuah karya. Studio lain bisa memberikan saran tentang sentuhan apa yang harus diberikan agar karya tersebut jadi sebuah masterpiece. Dengan semakin banyaknya karya masterpiece animasi di Indonesia, saya yakin kualitas animasi kita bisa jauh lebih bagus dan lebih maju, dan semakin banyak investor yang akan tertarik kesini.

Makanya mas Adhi punya perkumpulan animator sendiri ya mas (secara kebetulan, sebelumnya saya dapat informasi dari sumber yang terpercaya)?

Iya mas. Sampai sekarang saya aktif untuk menggandeng studio-studio animasi di Indonesia agar mau saling berkolaborasi. Di perkumpulan ini, kita ajak agar animator-animator di Indonesia mau saling bekerja sama. Karena kita sadar bahwa kita punya tanggung jawab untuk membukakan jalan bagi generasi-generasi berikutnya di Indonesia.

Kita lihat saja di Surabaya sendiri, banyak sekali SMK yang membuat jurusan Animasi dan Multimedia. Mereka yang mengambil jurusan itu, artinya masa depan mereka jadi tanggung jawab kita mas. Kita (animator perofesional) yang harus bisa membuka jalan bagi mereka.

Super sekali. Menurut mas Adhi, sebesar apa peluang kerja bagi animator di Indonesia?

Besar sekali mas. Misalnya dalam sebuah pra produksi, kita butuh pengarang, director, dan story board. Di sini 1 orang saja sudah cukup. Sedangkan pada proses produksi, bisa sampai puluhan animator yang akan dilibatkan. Baru kemudian pasca produksi, ada musisi, dan lain sebagainya. Namun yang paling banyak dilibatkan adalah jumlah animator.

Semakin subur bisnis animasi di Indonesia, maka semakin banyak lulusan jurusan animasi yang akan dipakai. Inilah beban yang harus ditanggung industri animasi di Indonesia.

Saya yakin, jika Indonesia punya industri animasi yang mau saling bersaing dan bekerjasama seperti Pixar dan Dreamworks, Indonesia bisa menyaingi Jepang saat ini. Sedikit cerita, di Jepang itu anime ada dimana-mana. Ada Gundam di pintu Bandara. Di subway, orang tua sampai anak-anak baca Shonen. Keselarasan antara animator, konsumen dan investor inilah yang akan membawa kita ke tingkat yang lebih tinggi.

Bicara soal Investor, Apa tips terbaik yang bisa mas Adhi berikan untuk menghadapi investor? Karena animator cenderung flunk di sini.

Jika saya berkaca di Indigo Fellowship, maka kemampuan akunting saya lah yang justru memainkan peranan yang paling besar. Saya gunakan bahasa akuntan untuk presentasi di depan investor. Inilah rookie mistake yang seringkali dilakukan animator.

Jangan gunakan bahasa animator di depan investor.

Karena investor tidak peduli dengan TimeFrame, tools, dlsb. Mereka peduli dengan share, profit margin, expense, net worth, dlsb.

Kembali lagi ke Wanara boleh ya mas. Kenapa harus memasukkan unsur lokal konten? (Ada unsur Bali di dalam The Adventure of Wanara)

Nah ini mas. Jika kita ingin lebih mudah menembus pasar internasional, maka senjata terbaik adalah lokal konten. Karena katakanlah di Jepang. Mereka sudah jenuh dengan mecha, ninja, samurai. Maka kita bisa berikan alternatif berupa konten lokal. Kita mengenalkan gaya Indonesia dengan balutan kultur mereka (Chibi).

Namun tidak sekedar memasukkan saja mas. Kita juga harus riset langsung. Misalnya untuk sekedar mengumpulkan bahan, saya berkunjung dari monkey forest hingga museum keris di Bali dan menjajal sendiri keris besar yang bisa dipegang hanya dengan 1 tangan. Saya juga mengumpulkan sejumlah koleksi buku kuno dengan bahasa Sansekerta untuk memperbanyak perbendaharaan kata kami.

Apa peran Mas Adhi di Wanara?

Saya lebih ke ide mas. Sedangkan rekan saya sesama dosen Akuntansi, yaitu Bonnie Soeherman yang jadi Art Director.

Wah, dua-duanya dosen akuntansi ya mas. Saya jadi penasaran, di tengah kesibukan sebagai dosen, bagaimana produksi Wanara bisa tetap jalan?

Tidak mudah mas. Namun apabila punya passion dan kemauan, saya yakin bahwa siapapun, apapun profesinya, pasti bisa.

Sedikit cerita, kita dapat challenge dari Telkom untuk build team. Karena kita ikut program inkubasi bisnis dari Telkom, maka setiap 3 bulan ada pengawasan. Di sinilah yang saya syukuri. Dengan tekanan berupa deadline, kita berhasil mengumpulkan orang-orang hebat yang mau bekerjasama dengan kita. Wanara digarap oleh tim yang terdiri dari 60 orang. Semuanya bekerja secara remote, dan dikontrol dengan gadget lawas saya (menunjukkan sebuah gadget smartphone yang memang cukup lawas. Kemudian tertawa).

Terimakasih mas Adhicipta, maaf diskusi kita jadi lebih panjang dari yang kita perkirakan..

Tidak  apa-apa mas. Saya senang kalau bisa berbagi. Terakhir, saya ingin sedikit berpesan untuk mas Dhika dan mungkin orang-orang lain yang berminat untuk jadi animator, atau jadi apapun, namun merasa tidak punya kesempatan.

(kebetulan saat itu saya tidak datang sendiri, saya mengajak seorang asisten bernama Dhika yang tertarik untuk terjun di dunia animasi meskipun latar belakangnya sebagai programmer).

“Saya percaya bahwa doa akan mengantarkan kita ke manapun yang kita mau. Ketika satu jalan sudah tertutup, maka jalan yang lain akan dibuka.”

Super sekali. Terimakasih mas Adhicipta telah bersedia meluangkan waktu untuk ngobrol bareng team MEBISO. Semoga produksi Wanara senantiasa diberikan kelancaran dan kesuksesan jauh lebih besar dari yang telah direncanakan. 

timeline-wanara

Timeline Wanara. Bulan Oktober 2013 dijadwalkan rilis

           
  • 12
    Shares

Artikel Terkait

1 komentar

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *