Community

Studi Menarik dari Delihome, Start Up dari Surabaya yang Berkesempatan Belajar ke Silicon Valley

 
  • 6
    Shares

   

Setelah melalui perjalanan panjang melakukan inovasi dalam Startup Sprint, sebuah kompetisi untuk perusahaan rintisan berbasis teknologi yang menciptakan solusi bermanfaat untuk permasalahan di Indonesia yang diselenggarakan oleh Start Surabaya; Andree Wijaya, James Junianlie, dan Elisabeth Be akhirnya lolos menjadi representatif tim startup dari Surabaya. Mereka adalah founder dari Delihome, aplikasi food delivery yang bertujuan untuk memudahkan pendistribusian masakan rumahan ibu rumah tangga atau UMKM kepada masyarakat di Surabaya. Delihome terpilih sebagai pemenang Startup Sprint dan terbang ke Silicon Valley untuk menambah wawasan tentang ekosistem startup global yang akan dibagikan pada anak muda penggiat startup  di Indonesia.

 

Delihome, yang dulu dikenal dengan nama Masaku, selama 4 hari, mereka berkeliling menjelajahi kiblat startup dunia dan berkunjung ke perusahaan dan inkubator level dunia seperti Google, Facebook, Code for America, WeWork Transbay, Start X, Startup Weekend, dan GSVLabs.

 

Buat Startup untuk Solving Problem

Founder harus tumbuh dalam budaya untuk selalu solving problems dan membantu orang banyak. Salah satu yang menarik adalah saat kunjungan ke Code for America, inkubator yang selalu mengembangkan civic tech, dimana startup didorong untuk mengembangkan layanan pemerintah untuk diimplementasikan ke masyarakat luas. Salah satu contoh startupnya adalah BlightStatus yang merupakan aplikasi yang menyimpan semua data orang yang terkena bencana untuk mempermudah upaya pemerintah untuk menyalurkan bantuan.

 

“Ini nilai pertama yang harus dimiliki oleh semua entrepreneur di Indonesia. Bikin startup itu bukan karena mau mencari uang, tapi untuk menyelesaikan masalah yang ada di Indonesia,” ujar James (CFO) yang merupakan lulusan dari The University of Nottingham Ningbo China.

 

Founder Lebih Penting Daripada Ide

Di F50 (venture capital syndication platform) dan Startup Weekend (sebuah program 54 jam untuk membuat startup), Delihome belajar bahwa  menemukan co-founder yang tepat lebih penting daripada ide startup itu sendiri. Alasannya sesederhana bahwa worldclass team bisa mewujudkan apapun yang ingin dicapai. Sebaliknya, jika ide startup luar biasa bagus, namun tim yang menjalankan buruk, maka mereka tidak akan kemana-mana.

 

“’A’ team with ‘B’ idea is better than ‘B’ team with ‘A’ idea. Itu nilai yang diimplementasikan dengan nyata disana, buktinya rata-rata tempat yang kita kunjungi berbentuk co-working space, karena melaui co-working space terbentuk komunitas founder untuk bisa saling menemukan dan berkolaborasi,” ujar Lisa (CMO) yang bertanggung jawab pada marketing dari Delihome.

 

Belajar dari Google dan Facebook 

Siapa yang tidak tahu Google dan Facebook? Dua perusahaan raksasa tersebut memang memiliki formula canggih untuk terus berkembang. Salah satunya adalah soal culture dan nilai yang mereka tanamkan kepada karyawannya. Di Facebook, mereka menyebarkan nilai “move fast and break things” dimana setiap orang didorong untuk bergerak cepat sehingga bisa menghasilkan sesuatu dengan cepat sehingga bisa terus menghasilkan. Di Google, mereka menyebarkan nilai “don’t be evil” dimana Google mengajarkan kepada karyawannya untuk tidak tamak pada keuntungan, melainkan fokus pada kebutuhan orang yang lebih banyak. Culture mereka yang kuat mengarahkan pada branding dan positioning yang baik bagi perusahaan. Startup perlu memikirkan tentang fondasi culture sejak awal.

 

Nilai dan Kolaborasi di Dunia Teknologi

Di GSV Labs, Delihome belajar tentang bagaimana seluruh elemen yang dibutuhkan Startup bisa berkolaborasi dalam satu tempat, mulai dari investor, calon startup, IT support, mentor, hosting company, dan sebagainya. GSV Labs merupakan sebuah inkubator yang membantu entrepreneur untuk berinovasi dengan skala global.

 

Bahkan di Facebook, nilai kolaborasi jelas terlihat dengan tidak adanya ruangan bagi karyawan termasuk untuk Mark Zuckerberg dan Sheryl Sandberg, hal ini karena perusahaan ini ingin semua orang bisa approchable, terbuka satu sama lain, dan berkolaborasi.

“Dari segi lokasi, tidak ada yang spesial dari Silicon Valley. Malah, tempat kehidupan mereka yang gersang dan banyak imigran mendorong mereka untuk bekerja lebih keras. Sementara, Surabaya memiliki sumber daya alam yang jauh lebih bagus dan seharusnya lebih mudah untuk berkembang. Silicon Valley itu hanyalah sebuah tempat biasa, tapi tekad, kemauan, dan mindset penduduk sana lah yang mengubahnya menjadi surga startup dunia,” ujar Andree selaku CEO Delihome yang juga merupakan lulusan Nanyang Technological University Singapura.

 

Terlepas dari itu semua, Delihome sangat yakin bahwa semua yang ada di Silicon Valley sebenarnya sudah ada di Surabaya termasuk co-working space, program inkubasi, mentor network, dan dukungan pemerintah. Utamanya jika mindset anak muda dibentuk untuk solving problems, kita bisa membuat startup yang menyelesaikan masalah dengan menggunakan teknologi untuk impact yang masif bukan hanya ke masyarakat Surabaya tetapi bagi seluruh Indonesia.

 

 

delihome

delihome via start surabaya

 

 

“First they ignore you, Then they laugh at you, Then they fight you, Then you win.”

-Mahatma Gandhi-

 


  • 6
    Shares

Artikel Terkait

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *