
Banyak yang Gagal Daftar Merek, Jangan Sampai Kamu Juga!
Masih banyak bisnis yang tidak sadar bahwa merek mereka berisiko ditolak. Yuk, kenali cara menilai potensi keberhasilan sebelum kamu mendaftar!
Banyak pebisnis merasa sudah promosi besar-besaran, konten sudah rajin dibuat, bahkan iklan sudah rutin jalan. Namun, hasilnya tetap sama, traffic ramai tapi transaksi masih tipis. Kondisi seperti ini biasanya terjadi karena bisnis hanya fokus menarik perhatian saja.
Seyogyanya, bisnis juga perlu menyiapkan jalur tertentu kepada calon konsumen, agar mereka yakin untuk memutuskan membeli. Nah, dari sinilah marketing funnel akan bekerja. Selama ini, funnel mungkin hanya dipandang sebagai teori marketing yang jarang dipakai.
Padahal, funnel merupakan peta sederhana yang dapat membantu bisnis mengarahkan calon pembeli agar tidak berhenti di tahap lihat-lihat saja. Jika funnel dirancang rapi, bisnis bisa mengubah pengunjung yang awalnya hanya penasaran menjadi pembeli yang loyal.
Funnel bekerja seperti jalur yang menuntun calon pembeli dari melihat, kenal, sampai akhirnya memutuskan untuk transaksi. Berikut cara kerja dan contoh marketing funnel yang paling seringkali muncul pada bisnis modern:
Tahap awal, funnel bekerja ketika orang mulai melihat brand lewat konten, iklan, atau rekomendasi. Di sini tujuan utamanya menciptakan kesan pertama yang kuat. Bisnis yang menang di tahap ini biasanya punya visual jelas dan penyampaian yang mudah dipahami.
Misal, calon pembeli melihat video edukasi, lalu mulai sadar jika produk tersebut bisa menyelesaikan masalah. Lebih lanjut, konsumen mulai mantap karena percaya jika produk tersebut memang sesuai kebutuhan.
Setelah orang sadar soal keberadaan brand, funnel mulai mendorong rasa penasaran. Di tahap ini konsumen mulai membuka profil, menonton konten lain, menyimpan postingan, atau membaca komentar.
Ini fase penting karena bisnis sedang diuji, apakah terlihat meyakinkan atau justru terlihat seperti toko musiman. Marketing funnel bekerja efektif ketika brand mampu menampilkan cerita, bukti, serta gaya komunikasi yang terasa nyata.
Tahap berikutnya adalah membuat konsumen mulai berpikir lebih logis. Mereka membandingkan harga, mengecek kualitas, mencari testimoni, sampai mengulik reputasi brand.
Funnel tidak akan berjalan mulus kalau proses beli dibuat ribet. Menarik perhatian tidak melulu soal diskon. Faktor yang paling penting adalah tentang kemudahan. Konsumen yang sudah siap membeli bisa batal hanya karena tahap checkout membingungkan.
Bagian paling mahal dalam funnel bukan awareness, melainkan loyalitas. Funnel yang matang akan memikirkan cara membuat pembeli kembali lagi. Bentuknya bisa follow up yang sopan, program member, hingga pelayanan purna jual yang membuat konsumen merasa dihargai.
Funnel yang rapi harus dibuat seperti menuntun calon pembeli dari rasa penasaran sampai akhirnya yakin transaksi. Guna membangun funnel yang benar-benar bekerja, strategi marketing funnel berikut bisa kamu terapkan:
Strategi awal yang paling penting ialah memetakan apa yang sebenarnya dicari konsumen. Amati terkait keluhan utama, ketakutan sebelum membeli, alasan ragu, sampai harapan yang ingin mereka dapatkan. Jika pemetaan ini jelas, konten awareness akan terasa relevan dengan kebutuhan.
Kesalahan umum di banyak bisnis adalah mencampur konten edukasi dengan ajakan beli secara berlebihan. Akibatnya, audiens merasa digiring atau mendapat paksaan, hingga akhirnya menjauh. Marketing funnel awareness yang sehat umumnya memisahkan konten awareness dengan konten promosi.
Kepercayaan tidak tumbuh dari kata-kata indah seperti kualitas terbaik atau paling recommended. Kepercayaan muncul dari bukti yang nyata dan mudah dicek. Gunakan testimoni yang detail hingga review pelanggan yang jujur.
Banyak calon pembeli sudah siap checkout, tetapi batal karena proses pembelian ribet. Ini masalah marketing funnel yang sering tidak disadari. Strategi paling efektif adalah membuat jalur order sesingkat mungkin.
Misalnya pada ranah penjualan digital, sertakan link pembelian, harga transparan, admin yang responsif, hingga informasi pengiriman yang tidak bertele-tele. Digital marketing funnel yang baik umumnya dapat membuat konsumen tidak perlu berpikir dua kali.
Strategi retensi bisa berupa follow up setelah pembelian, bonus repeat order hingga program loyalti yang membuat konsumen merasa dihargai. Saat retensi berjalan, funnel berubah menjadi mesin pertumbuhan bisnis yang stabil.
Banyak bisnis merasa sudah menerapkan funnel dengan baik, padahal masih melakukan kesalahan mendasar. Berikut beberapa kesalahan yang perlu diantisipasi agar marketing funnel yang dijalankan tidak berantakan:
Funnel fokus pada tahapan calon pembeli dari kenal sampai beli. Sedangkan strategi marketing mencakup semua cara pemasaran secara keseluruhan.
Jangan ikut banting harga, kuatkan branding, kualitas, pelayanan, dan bonus agar pembeli pilih nilai, bukan murah.
Perbaiki kesalahan, respons cepat, tingkatkan kualitas, lalu bangun ulang kepercayaan lewat bukti nyata dan testimoni.
Ingin Daftar Merek? Jangan Lupa Cek Potensinya Dulu!
Banyak merek gagal terdaftar karena tidak melalui analisis yang tepat. Pastikan kamu tidak melewatkan langkah penting ini sebelum mengajukan pendaftaran!
Marketing funnel memang penting untuk dibangun. Namun, ada hal yang juga penting untuk diperhatikan, yakni perlindungan merek dagang. Funnel yang sudah rapi bisa langsung hancur jika nama brand milikmu ternyata sudah dipakai orang lain.
Sebelum bisnis makin besar dan traffic makin ramai, alangkah baiknya jika mengamankan identitas brand sekarang juga. Mulailah dengan cek merek online di Mebiso, supaya kamu tahu apakah nama bisnis masih aman atau sudah ada yang memakai lebih dulu.
Jika hasilnya memungkinkan, lanjutkan dengan daftar merek melalui jasa pendaftaran merek di Platform Jasa Merek. Lewat Jasa Merek, proses mengamankan brand akan lebih mudah, karena didampingi profesional yang siap memastikan merekmu benar-benar terlindungi.