
Banyak yang Gagal Daftar Merek, Jangan Sampai Kamu Juga!
Masih banyak bisnis yang tidak sadar bahwa merek mereka berisiko ditolak. Yuk, kenali cara menilai potensi keberhasilan sebelum kamu mendaftar!
Di dalam dunia bisnis digital, perusahaan software umumnya tak menjual barang secara fisik atau berwujud konkrit. Namun justru karena itulah, nama merek jadi sebuah aset utama yang paling sering jadi rebutan. Ketika produk software mulai bisnis gunakan secara luas, risiko klaim merek akan mulai meningkat secara signifikan.
Banyak pemilik perusahaan software yang lebih fokus pada pengembangan produk dan akusisi klien, tapi luput untuk mengamankan mereknya. Akibatnya, transaksi yang sudah berjalan dapat terganggu seketika ketika muncul klaim dari pihak lain yang merasa memiliki hak atas nama serupa.
Pada titik inilah, merek bukan lagi soal identitas, melainkan juga sebagai penentu apakah transaksi bisnis dapat terus berlangsung atau harus berhenti.
Mari pelajari selengkapnya bagaimana mempersiapkan perusahaan software yang siap bertransaksi dengan aman di pasar dari perspektif perlindungan merek dalam ulasan artikel di bawah berikut!
Jumlah perusahaan software di Indonesia terus bertambah seiring makin meningkatnya juga kebutuhan terhadap digitalisasi bisnis. Namun di sisi lain, pertumbuhan ini juga akan memicu persaingan nama dan identitas merek itu sendiri.
Di dalam praktiknya, banyak perusahaan piranti lunak atau software yang menggunakan karakteristik nama-nama berikut sebagai identitas nama bisnisnya:
Ketika sebuah piranti lunak mulai kamu pasarkan, promosikan, dan mulai menghasilkan transaksi secara konsisten, potensi konflik merek jadi nyata. Klaim terhadap merek bisnismu pun bisa muncul dari perusahaan lain, bahkan dari pihak yang lebih dulu mendaftarkan mereknya meskipun belum aktif berjualan.
Karena itulah, tanpa pendaftaran merek yang mumpuni, perusahaan software bakal menjadi lemah di hadapan pasar kompetitif dan di hadapan para calon mitra bisnismu.

Setiap jenis perusahaan software yang beroperasi, biasanya juga akan punya karakter transaksi dan risiko klaim yang berbeda. Namun begitu, semuanya tetap akan bergantung pada kekuatan merek yang perusahaan tersebut miliki.
Beberapa jenis dari perusahaan piranti lunak yang sering kita temui di pasar sendiri antara lain seperti berikut:
Pada software atau piranti lunak yang berbasis langganan, klaim terhadap merek dapat menghentikan pembaruan dan penagihan. Pada piranti lunak entreprise, klaim juga bisa membatalkan kontrak yang kamu bangun. Sedangkan pada aplikasi publik, klaim bisa berujung pada penghapusan aplikasi dari platform distribusi yang dipakai.
Semua skenario-skenario ini tentunya bisa berdampak langsung pada transapksi jual beli yang sedang bisnis jalankan.
Faktanya tak sedikit contoh perusahaan software yang justru mengalami hambatan serius bukan karena produknya gagal, melainkan karena mereknya yang bermasalah. Beberapa pola yang sering kali terjadi di luar sana antara lain seperti berikut ini:
Ketika klaim terhadap merek muncul, perusahaan tentu akan terpaksa memilih antara harus menjalankan strategi rebranding atau harus menghentikan distribusi secara seluruhnya. Dalam konteks transaksi, kedua pilihan ini sama-sama punya konsekuensi yang ‘mahal’ dan berisiko.
Situasi ini sendiri menunjukkan bahwa keberhasilan perusahaan piranti lunak tak hanya ditentukan oleh teknologi, tapi juga oleh kesiapan merek bisnis secara legal.
Di dalam praktik jual beli piranti lunak, klien tak hanya membeli fitur-fitur yang kamu buat, tapi mereka juga membeli kepercayaan. Karena itu, merek yang punya kejelasan dan aman secara hukum akan jadi bagian dari nilai tersebut.
Lebih jauh, perusahaan software yang memiliki merek terdaftar akan bisa mendapatkan beberapa keuntungan sebagai berikut:
Namun sebaliknya juga, merek yang belum memiliki pengamanan sering kali menjadi titik lemah yang dipertanyakan klien, investor, dan para calon mitra bisnismu. Sehingga dengan kata lain, perusahaan piranti lunak yang punya legalitas merek tentu akan punya nilai lebih daripada perusahaan piranti lunak lain yang tak memiliki legalitas merek.
Bagi perusahaan piranti lunak, pendaftaran merek bukan hanya sekadar proses administrasi untuk mendapatkan legalitas saja. Lebih dari itu, proses daftar merek adalah tameng yang berfungsi untuk melindungi seluruh aktivitas jual belinya secara digital.
Sebab tanpa merek yang terdaftar, maka perusahaan piranti lunak bakal menemui risiko-risiko sebagai berikut:
Namun sebaliknya juga, dengan memiliki merek terdaftar, perusahaan jadi bisa memiliki dasar hukum yang kuat untuk mempertahankan nama dan produk-produknya di pasar — bahkan ketika muncul klaim dari pihak lain.
Ya, sebab klaim sering kali terjadi justru ketika produk piranti lunak mulai banyak konsumen kenali di pasar.
Tidak, cek merek hanyalah langkah awal perlindungan merek, bukan sebagai perlindungan hukum. Sehingga cek merek tetap perlu berbarengan dengan proses daftar merek.
Waktu paling baik untuk mendaftarkannya adalah sebelum transaksi dan distribusi produk meluas.
Bisa, jika merek tersebut ternyata punya kemiripan dengan merek lain di kelas merek yang sama.
Sangat memengaruhi, terutama dalam hal kerja sama dan investasi terhadap perusahaan piranti lunakmu.
Ingin Daftar Merek? Jangan Lupa Cek Potensinya Dulu!
Banyak merek gagal terdaftar karena tidak melalui analisis yang tepat. Pastikan kamu tidak melewatkan langkah penting ini sebelum mengajukan pendaftaran!
Pada tahap bisnis sudah berjalan dan transaksi mulai rutin terjadi, perusahaan piranti lunak tak lagi berada fase yang coba-coba. Setiap penjualan lisensi, kontrak kerja sama, hingga langganan produk membawa risiko hukum jika nama merek belum benar-benar aman.
Langkah pertama yang krusial adalah mengecek potensi konflik merek. Kamu bisa gunakan fitur cek merek dagang AI dari Mebiso untuk menilai sejak awal apakah nama merekmu berisiko tertolak atau bisa terdaftar secara real time.
Setelah potensi merek terpastikan, langkah berikutnya adalah pendaftaran merek secara resmi. Di fase ini, kamu bisa pilih menggunakan jasa paten merek terpercaya dari Jasa Merek agar prosesnya berjalan lebih aman, terarah, dan minim kesalahan administratif.