
Banyak yang Gagal Daftar Merek, Jangan Sampai Kamu Juga!
Masih banyak bisnis yang tidak sadar bahwa merek mereka berisiko ditolak. Yuk, kenali cara menilai potensi keberhasilan sebelum kamu mendaftar!
Produk properti yang ada di pasaran sering kali tampak serupa. Mulai dari lokasi yang bersaing, spesifikasi mirip, dan harga tidak terpaut jauh. Lalu apa yang membuat customer memilih perusahaan properti milik kita?
Di tengah persaingan perusahaan properti di Indonesia, customer akan memilih perusahaan yang terpercaya menurut mereka. Kepercayaan tersebut tidak lahir dari brosur atau janji semata, melainkan dari citra dan konsistensi brand yang dibangun sejak awal. Hal inilah yang kita sebut sebagai branding.
Branding membuat customer mampu melihat posisi perusahaan. Apakah perusahaan propertinya fokus pada hunian keluarga, investasi, atau segmen premium? Perusahaan dengan identitas yang kuat cenderung lebih mudah diingat dan mendapat kepercayaan.
Itulah sebabnya branding bukan sekadar urusan tampilan brosur, melainkan fondasi penting bagi keberlangsungan dan pertumbuhan perusahaan properti.
Branding yang kuat mampu memberi dampak langsung ke penjualan, kepercayaan, dan nilai bisnis. Perusahaan properti dan real estate yang memiliki branding konsisten akan memiliki banyak keuntungan, bahkan saat pasar melambat.
Berikut ini beberapa manfaat branding:
Pembeli ingin merasa aman sebelum mengeluarkan DP, menandatangani PPJB, atau mengajukan KPR. Investor juga tidak mau menaruh dana pada perusahaan yang kredibilitasnya meragukan.
Hampir seluruh transaksi properti bernilai besar dan memiliki risiko yang tinggi. Oleh karena itu, branding membantu perusahaan terlihat profesional dan terpercaya.
Calon pembeli yang sudah percaya tidak akan menghabiskan waktu terlalu lama untuk memastikan hal-hal mendasar. Mereka lebih fokus pada detail unit, skema pembayaran, dan jadwal serah terima. Hasilnya, proses closing lebih cepat dan pipeline penjualan lebih sehat.
Tanpa branding, perusahaan mudah terjebak perang harga. Kompetitor memberi diskon, tim penjualan menjadi panik dan latah ikut menurunkan harga.
Branding yang baik membuat perusahaan fokus menjual value. Mulai dari kualitas bangunan, konsep kawasan, layanan after-sales, hingga reputasi penyelesaian proyek. Pembeli pun fokus pada value, bukan hanya mencari harga termurah.
Saat perusahaan memperluas pasar, membuka proyek baru, atau masuk kerja sama, partner akan menilai rekam jejak dan reputasi sebelum menandatangani MoU. Branding properti yang kuat akan mampu menaikkan valuasi dan memperbesar peluang kerja sama strategis.

Perusahaan perlu menjalankan langkah yang tepat, konsisten, dan bisa mengukur dampaknya ke penjualan. Berikut strategi yang paling relevan dan terbukti bekerja di lapangan.
Perusahaan harus memilih satu positioning dan menyampaikannya kepada publik secara konsisten. Posisi ini akan menentukan peran perusahaan properti, cara perusahaan berkomunikasi, desain materi promosi, hingga target pasar.
Contohnya perusahaan properti yang fokus pada hunian keluarga akan memiliki gaya komunikasi hingga penulisan iklan yang berbeda dengan perusahaan yang fokus pada properti investasi.
Brand yang kuat selalu memiliki nama, logo, tagline, dan tampilan visual yang selaras. Perusahaan perlu memastikan semua materi terlihat satu visi mulai dari papan proyek, brosur, website, media sosial, sampai presentasi ke investor.
Konsistensi visual membuat perusahaan terlihat serius sehingga pasar lebih cepat percaya.
Perusahaan perlu merumuskan pesan utama yang mampu menjelaskan nilai brand dengan singkat. Misalnya, menonjolkan ketepatan serah terima, kualitas bangunan, desain kawasan, atau layanan purna jual.
Tim sales dan marketing wajib menggunakan pesan ini secara konsisten agar tidak terjadi komunikasi yang berubah-ubah.
Karena itu, perusahaan harus menampilkan bukti yang memperkuat brand. Misalnya progres pembangunan yang rutin, testimoni yang nyata, dokumentasi serah terima, portofolio proyek, dan layanan yang jelas.
Bukti seperti ini bekerja lebih kuat daripada sekadar janji atau kata-kata promosi untuk membentuk kepercayaan konsumen.
Branding bukan sebatas iklan, tetapi juga terbentuk dari pengalaman pelanggan. Cara admin merespons, cara sales menjelaskan, kejelasan dokumen, transparansi biaya, hingga penanganan komplain sangat memengaruhi penilaian pelanggan terhadap brand.
Jika pengalaman pelanggan berantakan, iklan sebagus apa pun tidak akan menolong. Perusahaan perlu membuat standar layanan agar kualitas pengalaman tetap stabil di semua titik.
Nama adalah fondasi brand. Jangan sampai perusahaan sudah mengeluarkan biaya besar untuk desain, iklan, dan papan proyek, tetapi tiba-tiba harus ganti nama karena bentrok dengan pihak lain.
Risiko seperti ini bisa mengacaukan pemasaran, menghambat ekspansi, bahkan memicu konflik bisnis.
Dalam praktiknya, skema pendaftaran dan pengelolaan merek biasanya disesuaikan dengan tujuan bisnis dan rencana transaksi yang ingin dijalankan. Inilah sebabnya, pemilik perusahaan properti perlu memahami beberapa skema yang paling umum di lapangan.
Skema ini biasanya digunakan oleh developer properti skala menengah hingga perusahaan besar. Misalnya merek perusahaan adalah PT Maju Jaya Land, sementara nama proyeknya Maju Jaya Residence, Maju Jaya Industrial Park, dan Maju Jaya Townhouse.
Developer akan mendaftarkan merek perusahaan sebagai brand utama. Nama proyek kemudian muncul sebagai sub-brand yang menempel pada merek induk tersebut.
Banyak perusahaan yang memilih skema ini karena:
Tapi juga ada risiko seperti saat hanya satu proyek ingin dijual, nama brand perusahaan ikut terbawa sehingga proses legal menjadi lebih kompleks
Skema seperti ini biasanya untuk proyek yang targetnya dijual atau diakuisisi. Misalnya proyek Green Valley Residence atau cluster Cendana Hills yang mana setiap proyek berdiri sebagai brand tersendiri.
Masing-masing proyek memiliki merek yang didaftarkan secara terpisah dan tidak bergantung pada nama perusahaan induk.
Keuntungan dari skema ini adalah:
Kekurangannya adalah biaya pendaftaran dan administrasi lebih besar.
Banyak yang menggunakan skema ketika ada proyek bersama partner. Merek proyek tetap milik perusahaan dan tidak berpindah kepemilikan karena partner hanya ikut membangun dan menjual saja.
Perusahaan properti memberikan lisensi penggunaan merek kepada partner untuk keperluan promosi, penjualan, dan branding proyek. Ketika kerja sama selesai, maka lisensi penggunaan merek pun juga berakhir.
Contoh usaha properti adalah jual beli rumah, sewa apartemen, hotel, kos-kosan, dan masih banyak lagi.
Perusahaan yang bergerak di bidang jual-beli atau sewa-menyewa tanah hingga merancang bangun lahan atau sejenisnya.
Gaji agen properti sangat bervariasi dan tergantung perusahaan. Umumnya terdiri dari gaji pokok dan komisi (sekiat 2-5% dari nilai transaksi).
Ingin Daftar Merek? Jangan Lupa Cek Potensinya Dulu!
Banyak merek gagal terdaftar karena tidak melalui analisis yang tepat. Pastikan kamu tidak melewatkan langkah penting ini sebelum mengajukan pendaftaran!
Di bisnis properti, branding yang rapi memang membuat perusahaan lebih terpercaya. Namun, kepercayaan tidak cukup jika fondasinya rapuh. Nama perusahaan dan nama proyek yang sudah dipromosikan bertahun-tahun tetap bisa kena masalah jika pihak lain meragukan legalitas mereknya.
Untuk meminimalkan risiko sejak awal, kamu bisa Cek Merek Online sebelum membangun branding lebih jauh. Pengecekan ini membantu perusahaan properti memastikan nama brand yang dipakai tidak bentrok dengan merek lain dan siap untuk didaftarkan secara legal.
Setelah melakukan cek merek dan aman, segera daftarkan merek bisnis perusahaan properti secara legal. harus segera mengamankan merek.
Jika perusahaan ingin proses pendaftarannya berjalan rapi dan tidak menguras waktu tim internal, arahkan pengurusannya ke Jasa Paten Merek. Dengan pendampingan yang tepat, perusahaan bisa fokus pada pembangunan proyek, menjual unit, dan menutup transaksi tanpa gangguan di belakang layar.