
Apakah kamu pernah terpikir untuk memulai hidup slow living di desa dan mencari tahu ide bisnis apa yang bisa dilakukan di sana?
Salah satu ide bisnis yang menarik untuk dilakukan adalah bisnis peternakan.
Artikel kali ini akan memberikan gambaran bisnis ternak apa yang mudah untuk pemula hingga tips branding dan memperbesar bisnis. Simak sampai selesai ya!
Jika kamu memiliki modal yang cukup besar dan ingin mendapatkan keuntungan dengan cepat, maka kamu bisa mencoba ternak ayam.
Ternak ayam sendiri biasanya terbagi menjadi dua, ada yang beternak ayam petelur dan ada pula yang beternak ayam untuk diambil dagingnya. Bisnis peternakan mana yang lebih cuan dan cocok untukmu?
Ayam pedaging atau broiler menawarkan perputaran modal sangat cepat karena kamu bisa panen hanya dalam 30 sampai 35 hari saja.
Modal awal yang perlu kamu siapkan adalah Rp15 sampai 30 juta untuk skala 500 hingga 1.000 ekor ayam.
Kamu bisa menargetkan untuk menjual ke restoran, warung makan, atau franchise ayam goreng, hingga pasar tradisional.
Satu ekor ayam petelur bisa menghasilkan 280 sampai 300 butir telur per tahunnya. Artinya, hampir setiap hari ada uang yang masuk ke kantong kamu. Modal awal untuk 100 ekor ayam petelur adalah sekitar Rp5 sampai 8 juta. Cukup terjangkau, bukan?
Mengapa banyak yang tertarik ke bisnis peternakan ayam petelur?
Namun kamu juga perlu mewaspadai beberapa risiko di bawah ini:
Apakah kamu tertarik menjadi peternak ayam?
Ide bisnis ini menjadi bahan candaan bagi pekerja yang ingin mendapatkan side income dengan beternak lele.
Padahal bisnis ini bisa dimulai dengan modal kecil dan juga halaman rumah yang sempit.
Untuk belanja bibit lele, harganya Rp 2 sampai 3 juta untuk 2.000 ekor dan dipanen ketika usianya sudah mencapai 3 hingga 4 bulan.
Dari 2000 ekor, kamu bisa meraup omzet Rp 4 sampai 13 juta setiap panen.
Banyak pebisnis lele yang memulai dari satu kolam terpal saja tapi bisa sukses dan berkembang hingga puluhan kolam. Caranya?

Kalau kamu mau bisnis yang punya peak season tiap tahunnya, maka kambing dan domba adalah jawabannya.
Dibandingkan bisnis peternakan sapi, ternak kambing dan domba lebih murah untuk pemula.
Berikut tiga konsumen yang bisa kamu sasar:
Baznas mencatat hampir 1,8 juta ekor kambing dan domba dikurbankan secara nasional pada tahun 2025 lalu.
Semua orang berlomba-lomba untuk berqurban dan kamu bisa memanfaatkan momen ini dengan menyediakan kambing atau domba terbaik.
Tradisi umat muslim untuk menyembelih kambing atau domba untuk bayi yang baru lahir ini juga cukup tinggi tanpa kenal musim.
Kalau kamu bisa mendapatkan pengepul ini, kamu bisa suplai daging segar secara konsisten setiap pekannya.
Lalu berapa modal bisnis peternakan ini?
Modal awal untuk 5 sampai 10 ekor bibit adalah sekitar Rp 10 sampai 25 juta dengan potensi margin mencapai 25 hingga 35 persen per ekor.
Berikut strategi yang digunakan peternak kambing profesional dan bisa kamu tiru agar cuan maksimal:
Namun, kamu juga perlu mempertimbangkan risiko bisnis peternakan kambing dan domba di bawah ini:
Agar bisnis peternakan kamu berkembang dan bertahan lama, terapkan tujuh tips sukses berikut.
Jangan memaksakan ayam petelur jika lahan kamu hanya 50 meter persegi. Jangan pula memilih beternak kambing jika tidak ada pasar kurban atau aqiqah di sekitar kamu.
Pisahkan uang pribadi dan uang bisnis kamu sejak hari pertama. Hitung biaya pakan, obat, listrik, tenaga kerja, dan biaya tak terduga secara berkala.
Kamu bisa membuat buku catatan keuangan harian, misalnya untuk pengeluaran pakan.
Dalam sebulan, berapa persen dari omzet yang habis untuk pakan? Aturan mainnya, biaya pakan idealnya tidak lebih dari 60 persen dari total omzet kamu.
Investasi pada vaksinasi dan pakan bergizi akan menekan risiko kematian dan penyakit.
Jangan pernah menghemat pakan dengan cara menurunkan kualitas. Ujung ujungnya bisnis peternakan bisa rugi lebih besar.
Kamu tidak bisa menghilangkan risiko penyakit sepenuhnya. Tapi kamu bisa mencegahnya.
Langkah praktis yang bisa kamu lakukan adalah:
Jangan tunggu ayam atau lele kamu siap jual baru cari pembeli, pastikan kamu sudah menerapkan beberapa hal ini untuk mendapatkan pelanggan:
Harga pakan ternak cukup fluktuatif sehingga kamu harus paham kapan harga murah dan kapan harga mahal.
Tips dari peternak berpengalaman, belilah dalam jumlah banyak saat musim panen jagung tiba.
Biasanya harganya turun signifikan di bulan Maret sampai April dan September sampai Oktober. Lalu simpan di tempat kering dan sejuk agar pakan tidak berjamur.
Begitu juga dengan harga jual. Ayam dan telur biasanya lebih mahal menjelang hari besar keagamaan seperti Ramadan, Natal, dan Tahun Baru.
Maka, aturlah siklus panen kamu agar pas dengan momen momen ini.
Setelah kamu tahu jenis ternak mana yang mau dijalankan, kamu harus membangun merek dan mendaftarkannya secara resmi kepada pemerintah.
Mengapa perlu membangun merek?
Ternak yang cocok untuk pemula adalah ternak yang tahan penyakit, modal kecil, tidak butuh lahan yang terlalu luas, dan perputaran uang cepat. Salah satunya adalah Ikan Lele karena memiliki daya tahan tubuh yang kuat, tidak mudah mati, dan bisa dibudidayakan di kolam terpal lahan sempit
Beternak 500 ekor ayam petelur berpotensi menghasilkan keuntungan bersih sekitar Rp3,9 juta hingga lebih dari Rp6 juta per bulan, tergantung pada efisiensi pakan dan harga jual telur.
Setiap ekor ayam diharapkan mengonsumsi 100g-115g pakan per hari.
Apakah merek usaha peternakan kamu saat ini sudah terdaftar secara resmi di DJKI? Jika belum, kamu harus segera mendaftarkannya.
Pertama-tama cek dulu apakah nama atau merek yang kamu inginkan sudah digunakan orang lain. Kamu bisa gunakan layanan Cek Merek Online untuk melihatnya.
Keseharian sebagai peternak tentu sibuk memastikan kualitas ternaknya, kamu bisa menggunakan layanan profesional seperti Jasa Pendaftaran Merek untuk membantu mendaftarkan brand ternakmu.
Kamu tidak perlu melakukan semuanya sendiri. Manfaatkan bantuan profesional agar merek bisnis peternakan kamu segera terdaftar dan aman.
Sudah siap membangun brand peternakan kamu dari sekarang?