Event

Liputan Pemutaran Film Crocodile in the Yangtze bareng Porter Erisman

 
  • 7
    Shares

Crocodile in the Yangtze berkisah tentang perjuangan seorang Jack Ma mendirikan Alibaba.com dari mulai zero profit selama bertahun-tahun hingga menjadi perusahaan global dengan lebih dari 20,000 staf. Porter Erisman, sang pembuat film adalah mantan Vice President Alibaba.com yang telah menemani perjalanan Jack Ma selama hampir satu dekade dan menyaksikan transformasi perusahaan itu secara langsung. Apa yang sangat unik tentang film ini adalah betapa banyaknya arsip rekaman yang dapat dikumpulkan oleh Erisman untuk menyusun film ini. Bahkan, di dalamnya sama sekali tidak ada wawancara baru dengan Ma atau karyawan lain di Alibaba. Film ini bergantung pada setiap rekaman aktual dari rapat perusahaan, pesta, dan pidato. Hampir seperti menonton versi nyata dari The Social Network, cuma kalau ini dalam bahasa Mandarin.

9 Oktober 2013 kemarin, saya mendapat undangan untuk menghadiri screening film Crocodile in the Yangtze di Universitas Ciputra oleh Studentpreneur, sebuah majalah bisnis asli Surabaya yang baru-baru ini dinobatkan sebagai majalah bisnis terbesar bagi kalangan anak muda oleh Techinasia.com. Luar biasanya, mereka berhasil mendatangkan Porter Erisman langsung ke Surabaya. Maka disini, Porter Erisman membagikan sejumlah jawaban dari pertanyaan yang muncul terkait film buatannya. Seperti apa?

Bagaimana Jack Ma bisa punya ide mendokumentasikan setiap interaksi perusahaannya sejak pertengahan 1990-an?

Bahkan sejak hari pertama ketika mereka berada di apartemen itu (meeting pertama Ma), mereka sudah merasa bahwa mereka menciptakan sesuatu yang akan menjadi besar.

Dari mana anda mendapat film-film tersebut (yang anda gunakan untuk menyusun dokumenter Crocodile in The Yangtze)?

Ma memberikan saya izin untuk mengakses arsip perusahaan. Rupanya mereka memfilmkan segalanya, sampai saya punya terlalu banyak dokumen.

Adakah orang dalam Alibaba yang terlibat dalam pembuatan film ini?

Tidak ada. Saya tidak menginginkannya. Setelah Jack Ma memberi izin pada saya untuk membuat dokumenter independen saya sendiri, saya menghilang. Karena saya tahu akan banyak godaan dari banyak perusahaan untuk mendapatkan kendali terhadap produksi kami. Jadi saya menghilang, membuat film, dan ketika film ini selesai, saya langsung mengikutsertakannya ke festival. Kemudian saya menghubungi Jack dan mengatakan bahwa film dokumenter saya sudah selesai. Saya secara khusus menghindari interaksi dengan Alibaba karena saya ingin film ini menjadi benar-benar independen. Bahkan satu kata pun tidak ada yang ingin saya ubah.

Bagaimana pendapat Jack terhadap film anda?

Saya tidak bisa membaca ekspresinya. Saya pikir dia tidak begitu menyukainya dan tidak pula membencinya. Saya pikir dia menganggap film ini fair. Dia hanya bilang bahwa dia tidak akan melakukan apa pun untuk mencoba mengubahnya.

Dengan memasukkan suara Anda ke narasi, apakah menurut Anda tidak mengubah obyektivitas film?

Ada berbagai cara untuk membuat film dokumenter. Di awal, saya sangat jelas mengatakan bahwa film ini adalah pengalaman saya. Itu sebabnya, saya menyebutnya “documemoir”, bukan dokumenter. Karena documemoir lebih menyiratkan ke pengalaman pribadi pembuatnya. Semua hal yang saya tampilkan dalam film ini saya refleksikan kembali ke diri saya untuk memastikan bahwa apa yang saya lakukan di film benar-benar saya lakukan di masa lalu, tidak direkayasa, atau diatur oleh pihak ketiga. Saya punya aturan yang ketat terhadap diri saya sendiri. Akhirnya pun, film ini semuanya berisi pendapat saya, sudut pandang saya. Terserah penonton untuk memutuskan apakah mereka percaya atau tidak.

Untuk siapa anda membuat film ini?

Alasan pertama saya membuat film ini adalah untuk menginspirasi pengusaha lain atau mereka yang bermimpi jadi pengusaha. Saya ingin mereka melihat bahwa apabila mereka punya value yang tepat, bisa membangun tim, maka mereka dapat melakukan hal-hal yang besar. Alasan kedua adalah bahwa saya ingin membantu menjembatani kesenjangan antara China dan Barat. Saya ingin perusahaan China yang ingin ekspansi ke luar negeri untuk tahu dulu apa saja tantangan yang harus mereka hadapi. Jika mereka mempelajari Jack Ma, salah satu orang pertama yang berhasil melakukannya, saya pikir mereka akan dapat melihat tantangannya dengan mudah dan menemukan solusinya dengan cepat.

Banyak orang asing yang bekerja di organisasi Tionghoa merasa menantang karena kesenjangan budaya. Bagaimana Anda bisa beradaptasi dan bertahan begitu lama di Alibaba?

Saya pikir banyak orang asing yang pergi ke China dengan mentalitas kolonial. Mereka berpikir bahwa orang Barat sangat maju, mereka tahu bagaimana melakukan bisnis, dan mereka di sini untuk berbagi keterampilan dan pengalaman mereka. Saya pikir saya bisa selamat karena saya mulai dengan rasa minat saya dengan budaya China. Saya mempelajari bahasa mereka, saya senang bertemu orang-orang China dan tidak takut untuk membuat banyak kesalahan dan mempermalukan diri sendiri.

Ketika masih di Alibaba, pernahkah anda berpikir bahwa anda sedang membesarkan sesuatu yang mampu mengubah dunia?

Sekitar tahun 2002, saya pernah dilanda ketidakpastian. Di tahun itu, saya sedang mulai menulis buku. Namun saya hanya sanggup menulis satu halaman karena kala itu saya tidak tahu ke mana arah perusahaan ini. Dia mungkin gagal. Dan saya sadar bahwa saya mungkin akan mendokumentasikan kegagalan perusahaan. Saya tidak ingin melakukannya.

Baru di tahun 2008, saya memutuskan untuk membuat film. Karena Alibaba saat itu sudah punya arah yang jelas dan masa depan yang cerah. Saya berpikir positif bahwa saya mungkin akan menjadi saksi dari salah satu kisah bisnis yang paling menakjubkan dalam sejarah. Tentang pertarungan antara David melawan Goliath. Bagaimana Alibaba berhasil menghalau eBay yang kala itu berusaha menyusup pasar China.

Ketika bertemu dengan Jack baru-baru ini, apakah anda melihat adanya perubahan sikapnya seiring Alibaba menjadi semakin sukses?

Dia menjadi lebih baik. Ketika saya pertama kali bergabung dengan perusahaan ini, dia akan memberitahu media bahwa dia akan meninggalkan Alibaba setelah 4 tahun. Dia selalu mengatakan kalau dia bukanlah seorang CEO, dia hanya guru bahasa Inggris biasa. Namun dia benar-benar tumbuh dan berkembang. Apalagi setelah kami mengalami beberapa periode di mana manajer profesional justru memimpin perusahaan kami ke arah yang salah, baru dia menyadari bahwa dia bisa menjadi CEO.

Di dua adegan terakhir, Anda bisa menangkap pesan dari Jack Ma, “Anda tidak boleh berubah hanya karena Anda mendapatkan sedikit uang.” Ini adalah pidato yang dia berikan tepat sebelum saya keluar. Pidato ini dia sampaikan kepada semua staf karena dia ingin memastikan bahwa setiap individu di dalam perusahaannya senantiasa memegang core value perusahaan. Bahkan jika Anda berhasil, Anda harus berpegang teguh pada nilai-nilai yang membuat Anda sukses.

“Orang-orang di luar perusahaan boleh menganggapnya gila. Tapi kami yang ada di dalam perusahaan lah yang lebih mengenalnya.”

Apakah rencana anda sendiri di masa depan?

Pengalaman ini seperti melempar bola ke hutan dan melihat ke mana dia akan membawa Anda. Alih-alih mengetahui di mana tepatnya dia akan membawa Anda, Anda hanya mengikuti saja dan melihat apa yang akan terjadi.

Kemanapun anda pergi, semoga kepuasan selalu menyertai anda. Terimakasih telah datang ke Surabaya. Nah pembaca Mebiso, Anda dapat cek trailer “Crocodile in the Yangtze” di bawah ini.

Besok (11/10/2013) adalah hari terakhir pemutaran film ini di Surabaya. Anda dapat menghadiri event ini di auditorium UNAIR Surabaya. Temukan caranya di sini: http://mediabisnisonline.com/studentpreneur/


  • 7
    Shares

Berikan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *