Leadership

Mengenal Teori Pareto untuk Menyusun Strategi Bisnis yang Lebih Efisien

 
  • 58
    Shares

   

Teori Pareto juga dikenal sebagai aturan 80-20, menyatakan bahwa untuk banyak kejadian, sekitar 80% daripada efeknya disebabkan oleh 20% dari penyebabnya. Prinsip ini diajukkan oleh pemikir manajemen bisnis Joseph M. Juran, yang menamakannya berdasarkan ekonom Italia: Vilfredo Pareto yang pada 1906 mengamati bahwa 80% dari pendapatan di Italia dimiliki oleh 20% dari jumlah populasi. Anda boleh bilang kalau teori ini lemah. Namun pada kenyataannya, ada banyak fenomena dalam dunia bisnis yang membuat teori ini justru begitu solid, meskipun tidak serta merta kita boleh menerapkannya begitu saja pada semua aktivitas kita. Contohnya:

  • Tanyakan pada seorang Food & Beverage Manager tentang menu yang paling laku di restorannya. Bisa jadi secara rata-rata dari semua menu yang ada, hanya 20% dari daftar tersebut yang paling sering terjual. Dan uniknya lagi, 20% dari menu yang sering terjual tersebut pasti juga menjadi sumber pemasukan yang menyumbangkan 80% dari total pendapatan di restoran tersebut.
  • Sekarang cek market share Anda sendiri. Bisa jadi total revenue Anda dihasilkan oleh 20% dari total customer Anda.
  • Ada banyak aktifitas promosi yang sering kita lakukan, seperti flier, billboard, koran, radio. Cobalah untuk membuat statistik dari mana tamu anda mendapatkan informasi mengenai promosi Anda. Bisa jadi, 80% dari tamu tersebut akan menunjuk kepada satu atau dua aktifitas advertising anda yang apabila kita bandingkan hanya mewakili 20% dari semua aktifitas advertising anda.
  • Begitu juga pada website traffic. Seringkali kita mendapati di dalam log kita hanya sedikit (sekitar 20%) dari banyak keyword yang ada yang memberikan kontribusi di dalam share trafic kita (sekitar 80%).

Namun demikian, kembali lagi bahwa teori ini tidak bisa begitu saja diartikan secara harfiah. Misalnya, 80% pekerjaan hanya dilakukan oleh 20% karyawan. Kalau kita yakini secara membabi buta, teori ini akan menimbulkan gangguan pada dinamika kinerja yang ada. Anda perlu alat ukur yang lebih pas. Misalnya KPI (Key Performance Indicator).

[Baca juga: Sudahkah bisnis anda membuat kpi untuk manajemen kerja yang lebih baik]

Daripada untuk menghakimi, penerapan teori Pareto lebih baik digunakan sebagai upaya efisiensi saja. Misalnya di dalam banyak aplikasi management, hukum pareto sering kali digunakan dan biasanya berhasil. Contohnya ketika kita membuat daftar sepuluh aktifitas yang perlu dilakukan untuk meningkatkan quality control, maka kita hanya memakai dua yang terpenting dari sepuluh daftar aktifitas tersebut.

sumber: Wikipedia Bahasa Indonesia, martonotikjanto.com.
editor: Taufik M. Aditama
           
  • 58
    Shares

Artikel Terkait

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *